Bantuan untuk Arwah Penasaran (5)

Aku membuka pintu pagar dan memarkir sepeda motorku di bawah pohon besar, yang sepertinya adalah pohon nangka. Tapi aku mencium aroma yang aneh di situ.

Leherku menoleh ke kiri dan kanan, sejalan dengan tatapanku yang liar menyusuri sudut-sudut di sekitar lokasi itu. Tapi tidak ada satu pun hal yang mencurigakan.

Bau itu semakin jelas menyengat hidungku. Arahnya pun semakin dapat ditebak. Aku menunduk, menatap tepat di sebelah kiri roda depanku. Ternyata ada setumpuk kotoran kucing di situ.

Seorang pria keluar dari pintu bangunan utama tempat kos tersebut. Dia menyapaku dengan ramah. Aku menduga, dia mengira aku sedang mencari tempat kos.

"Cari tempat kos, Mas? Kebetulan di sini masih ada dua kamar yang kosong. Bisa bayar per bulan, bisa per tahun juga," dia menjelaskan.

Dengan sedikit sungkan, aku menjelaskan bahwa aku tidak sedang mencari tempat kos, tapi mencari Azwar.

"Oh, Azwar? Itu kamarnya yang ketiga dari sini. Langsung ke situ aja," ucapnya menyarankan.

Setelah mengucapkan terimakasih pada pria itu, aku bergegas menuju kamar Azwar dan mengetuknya. Kemudian duduk di kursi plastik yang ada di depan kamar, warnanya pink.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Aroma parfum ruangan keluar melalui pintu yang terbuka, bersamaan dengan kepala seorang pemuda. Wajah pemuda itu masih berbalur masker. Sepertinya dia tidak mengenakan baju.

"Cari siapa, Mas?," tanyanya dengan nada kemayu.

Seandainya bukan penugasan dari mas Syawal, pasti aku sudah pergi, meninggalkan laki-laki bermasker ini. Tapi, aku butuh keterangan dari si kemayu. Apalagi saat ini waktu deadline tinggal satu jam lewat sedikit.

"Mmmm.... Anu, Mas Azwar, kula madosi njenengan (aku mencarimu). Mau tanya-tanya sedikit tentang mbak Riska," ucapku dengan bahasa Jawa bercampur bahasa Indonesia.

Dia sedikit tersentak. Aku menduga raut wajahnya pasti berubah. Untung saja saat itu dia mengenakan masker, sehingga jikapun raut wajahnya berubah, tidak akan terlalu kentara.

Dia mengajakku masuk ke kamarnya, tapi aku menolak dengan halus. Aku ingat candaan Nila di kafe tadi siang. Kemudian Azwar kembali masuk ke kamarnya, setelah memintaku untuk menunggu sebentar.

Saat keluar dari kamar, Azwar sudah mengenakan pakaian. Masker pada wajahnya pun sudah tidak lagi ada.

Menurutku, perawakan Azwar cukup ideal, dengan tinggi sekitar 170 dan tubuh terawat berisi serta kulit putih bersih. Seandainya aku cewek, mungkin aku bakal jatuh hati padanya. Untung aku laki-laki normal.

"Pripun, Mas? (Gimana, Mas?), Ada yang bisa saya bantu? Mas dari mana ya?," dia bertanya.

Aku menjelaskan bahwa aku adalah jurnalis dari salah satu media cetak, yang mendapat penugasan untuk mencari tahu kebiasaan dan aktivitas Riska semasa hidupnya. Tidak lupa aku menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Riska.

Wajahnya terlihat sedih saat aku menjelaskan. Setelah mendengar penjelasanku, dia mulai bercerita. Azwar mengaku sangat terpukul saat mengetahui Riska meninggal, apalagi meninggal dengan cara yang tidak wajar.

Kata Azwar, dia dan Riska merupakan sahabat. Mereka berdua sering curhat tentang masalah masing-masing. Tapi, menurut Azwar, Riska tidak pernah mempunyai musuh, atau mengaku mempunyai musuh.

Hanya saja, beberapa hari sebelum ditemukan meninggal, Riska berubah menjadi lebih pendiam, dan tidak banyak bercerita tentang masalahnya.

"Terakhir dia mengaku seperti diawasi oleh seseorang. Dia merasa nggak tenang dan terancam. Tapi dia nggak tahu siapa yang ngawasin," kata Azwar lirih.

Aku mencoba menanyakan tentang keluarga Riska, tentang paman dan tantenya, serta tentang perusahaan milik orang tua kandung Riska, seperti yang dikisahkan oleh Nila.

Tapi Azwar mengatakan, Riska tidak pernah bercerita tentang hal itu. Riska hanya pernah bercerita, bahwa tantenya meminta dia untuk melanjutkan kuliah di kota lain. "Dia nggak cerita apa alasan tantenya. Tapi Riska nggak mau. Dia ngotot untuk melanjutkan S2 nya di sini," lanjutnya.

Saat aku menanyakan tentang orang yang terakhir pergi bersama Riska, dia menjawab tidak tahu. Tapi, dalam pesan terakhir yang dikirimkan Riska padanya, Riska mengaku sedang diikuti oleh dua pria, dan menuju ke tempat kos Nila.

"Cuma ini, Mas," Azwar menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Riska.

"Sejak malam itu, Nila juga menghilang. Tapi memang sebelumnya, Nila bilang dia mau pulang kampung dulu sekitar sebulan," dia menambahkan.

Aku bingung mendengar jawaban Azwar. Dua hari berturut-turut aku ngopi bareng Nila. Apakah Nila yang dimaksud oleh Azwar berbeda dengan Nila si gadis misterius itu?

"Tunggu dulu, Mas. Apakah Nila yang dimaksud adalah Nila yang pakai kawat gigi? Yang ini bukan?," aku menunjukkan foto profil Nila.

Azwar mendekatkan wajahnya pada layar ponselku. Entah sengaja atau tidak, jemarinya menyentuh jariku yang memegang ponsel. Tatap mata kami beradu. Andai saja dia cewek, aku pasti membalas genggamannya.

Dia melepaskan genggamannya pada jemariku, sambil meminta maaf. "Ehm... Iya, Mas. Itu fotonya Nila. Mas pernah chat sama dia?," dia mencoba menghilangkan kecanggungan tadi.

Aku mengiyakan, sambil membuka chatku dengan Nila. Aku berniat menunjukkannya pada Azwar. Tapi aneh. Seluruh chatku dengan Nila hilang. Bahkan pada riwayat panggilan video pun, tidak ada panggilan masuk dari dia. Yang ada hanya riwayat panggilan video dari aku ke nomornya.

Akhirnya aku membatalkan niatku untuk menunjukkan chat dengan Nila.

"Sepertinya untuk sementara udah cukup deh. Terimakasih banyak ya. Oh iya, kalau nanti aku butuh wawancara tambahan, boleh via telepon kan?," tanyaku.

"Iya mas, catat nomorku ya, aku tunggu teleponnya".

Setelah sedikit berbasa-basi, aku pamit dan melangkah menuju tempat sepeda motorku terparkir. Tapi niatku kuurungkan. Pukul 17.00 tinggal beberapa puluh menit lagi. Naskah ini harus selesai sebelum itu. Aku menjelaskannya pada Azwar.

Azwar mempersilakan aku mengetik di depan kamarnya. Namun dia tidak menemaniku di situ. Azwar kembali masuk ke kamarnya, entah apa yang dia lakukan.

Pukul 16.52 naskahku sudah kelar dan terkirim ke email redaksi kantor. Setelahnya, aku bergegas pulang, karena Azwar tidak menyahut saat beberapa kali kupanggil.

Aku berniat singgah di warung makan langgananku sebelum pulang. Perutku mulai lapar, sekaligus mencari teman ngobrol dan bergosip.

"Eh, Nak Akhsan. Kok sendirian aja? Cewek yang kemarin mana? Nggak diajak?," sapa ibu pemilik warung.

"Cewek yang mana ya, Bu? Saya nggak pernah bawa cewek ke sinj," ucapku heran.

Ibu pemilik warung mengatakan, tadi malam aku datang bersama seorang gadis bergaun biru. Tapi aku tidak mengajaknya masuk ke warung, dan gadis itu hanya menunggu di atas sepeda motor.

"Ah, Ibu bisa aja nakut-nakutinnya. Orang tadi malam aku sendirian kok," sanggahku.

Bersambung