Anas terus merutuki dirinya sendiri. Hanya karena menikmati es kelapa muda di terminal, dia terpaksa berjalan kaki malam ini. Sebetulnya, bukan es kelapa muda yang menggodanya untuk mampir di warung tadi, tapi penjaga warung yang cantik yang membuatnya singgah.

Dia kembali melangkah menyusuri jalanan itu. Rasa takutnya setelah melihat wajah nenek bungkuk tadi, belum juga hilang. Tapi, dia tidak tahu, berapa lama lagi dia akan tiba di kampung halaman orangtua kandungnya.

Bau anyir dan wangi dupa, yang tadi merasuki indera penciumannya, sudah lenyap. Tinggal aroma tanah yang basah dan pepohonan yang mengiringi jejaknya.

Setapak demi setapak, Anas melangkahkan kakinya. Dia mulai lelah. Sementara jalanan di depan masih cukup panjang.

Anas berharap dia bisa bertemu dengan pengendara sepeda motor atau mobil, yang searah dengannya, agar dia bisa menumpang hingga ke tempat yang ditujunya. Tapi, dia merasa itu seperti mengharapkan cinta dari Laura, cewek yang sudah tujuh kali menolaknya.

Laura adalah teman SMA sekaligus teman kuliah Anas. Sejak SMA, Anas selalu berusaha mendekati Laura, tapi dia selalu gagal mendapatkan cintanya. Hampir setiap tahun Anas menyatakan cintanya.

Bahkan pernah dalam enam bulan, dia dua kali menembak. Saat itu Laura baru saja putus dengan pacarnya. Tapi, lagi-lagi Laura menolaknya mentah-mentah.

Sepertinya kisah tentang Anas dan Laura, tidak terlalu penting dibahas dalam cerita ini, karena Laura sama sekali tidak ada hubungannya dengan jin penunggu kampungnya, Ki Blendo.

Tiba-tiba, Anas mendengar suara-suara aneh. Menurutnya, suara itu seperti berasal dari dalam tanah. Suaranya seperti piano dengan nada sangat rendah, membuat bulu kuduk Anas kembali berdiri.

Namun suara itu hanya terdengar selama beberapa detik, lalu disusul dengan suara anak bayi dan perempuan yang sedang menangis. Anas bergidik. Pikirannya melayang, dia hampir saja ngompol.

Semakin Anas berjalan, suara itu terdengar semakin nyata dan dekat. Suara binatang malam yang tadi bersahutan, tak lagi terdengar. Entah sejak kapan suara binatang-binatang itu terhenti.

Tepat di pembelokan jalan, di sudut sebelah kanan, Anas melihat seorang perempuan bergaun merah. Dia duduk di sudut jalan, sambil menggendong bayi. Sepertinya perempuan itu sedang menyusui bayinya. Saat bayi itu melepaskan hisapannya, keduanya menangis.

Anas tidak berani menoleh ke arah mereka. Dia sangat yakin bahwa keduanya adalah hantu, seperti nenek bungkuk yang ditemuinya beberapa menit lalu.

Dia melangkah semakin cepat, seperti setengah berlari. Anas berharap dia bisa secepatnya meninggalkan perempuan dan anak bayi itu, sebelum ompolnya benar-benar keluar.

Tapi, perempuan itu memanggilnya. Dia meminta tolong pada Anas. Tangannya melambai, memberi isyarat pada Anas untuk datang dan mendekatinya.

Anas mulai ragu. Dia mulai tidak yakin bahwa perempuan dan anak bayi itu adalah hantu. Naluri kemanusiaannya muncul. Anas merasa kasihan melihat keduanya, dan mendatangi perempuan itu.

Wajah perempuan tersebut cukup cantik, bahkan sedikit lebih cantik jika dibandingkan dengan Laura. Hidungnya mancung, alisnya tidak terlalu tebal, bibirnya tipis, dengan dagu sedikit terbelah.

"Mas, tolong saya. Anak saya kehausan, tapi dia tidak mau minum air susu saya," ucap perempuan itu lirih.

Anas menjawab sekaligus bertanya, kenapa anak itu tidak mau minum air susu. Dia juga menanyakan tujuan perempuan itu dan kenapa mereka berada di tempat tersebut. Anas berharap dia bisa berjalan bersama mereka menuju kampung Winingit.

Perempuan itu berdiri, sambil tetap menggendong bayinya. Kata dia, bayi itu tidak suka susu, tetapi darah. Dia menunjukkan wajah bayi yang digendongnya, sambil membuka bagian depan bajunya. Payudara perempuan itu keluar, sangat panjang, hingga menyentuh tanah. Sementara wajah bayi itu sangat aneh, bibirnya tidak horizontal tapi vertikal. Saat dia menangis, dua taring tajam muncul dari bibirnya.

Anas spontan berteriak, lalu berlari sekencang mungkin, diiringi suara tawa melengking dari hantu perempuan tersebut.

Kali ini, celana Anas benar-benar basah. Dia ngompol sambil berlari. Tapi Anas tidak peduli dengan ompolnya. Dia terus berlari, meski nafasnya terengah-engah dan tenggorokannya kering.

Anas memperlambat larinya, saat melihat beberapa rumah di kejauhan. Lampu temaram di depan rumah-rumah tersebut membuatnya sedikit lega. Dia terus melangkah sampai di persimpangan jalan.

Jalanan ke kanan tampak gelap, seperti jalanan yang dilaluinya selama hampir satu jam tadi. Sementara, jalanan yang lurus, menuju rumah-rumah penduduk.

"Sepertinya aku sudah hampir sampai," ucapnya dalam hati, sambil terus melangkah.

Hanya beberapa menit kemudian, Anas tiba di depan rumah pertama. Dinding rumah itu berwarna hijau lumut, dengan pencahayaan yang temaram pada terasnya. Suara anak kecil bermain-main di dalam, terdengar dari luar.

Anas melanjutkan langkahnya. Dia berharap ada seseorang yang ditemuinya di kampung itu. Anas menoleh ke kiri dan ke kanan, sampai akhirnya dia menemukan seorang pria paruh baya, sedang duduk-duduk di teras rumahnya.

Anas menyapa pria itu, lalu masuk ke pekarangan. Pria itu sedang menikmati secangkir kopi. Di sampingnya ada radio. Suara kidung 'Lingsir Wengi' dari radio itu sempat membuatnya bergidik. Tapi, Anas mengabaikan perasaan itu.

"Pak, numpang tanya. Saya mau mencari rumahnya Pak Basuki. Saya anaknya Pak Basuki. Apakah rumahnya masih jauh?," Anas bertanya.

Pria paruh baya itu menatapnya, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian dia mempersilakan Anas untuk duduk di sampingnya. Pria itu lalu memanggil istrinya dan menyuruhnya membuat segelas kopi.

"Kalau rumahnya Pak Basuki, masih jauh. Kalau kamu melanjutkan perjalanan, mungkin setelah tengah malam baru kamu tiba," jelasnya sambil menyeruput kopi di hadapannya.

Pria paruh baya itu, menyarankan agar Anas melanjutkan perjalanannya pada keesokan harinya. Tapi, dia tidak menjelaskan alasannya.

"Malam ini kamu istirahat di sini saja. Bapak lihat kamu sudah lelah. Ada kamar kosong di dalam. Dulu kamar itu ditempati oleh anak bapak, tapi sekarang dia kerja di kota," pria itu melanjutkan.

Tidak lama kemudian, istri dari pria itu keluar sambil membawa secangkir kopi, dan sepiring pisang goreng yang masih hangat. Dia mempersilakan Anas untuk menikmati suguhannya.

Anas dan pria itu akhirnya terlibat dalam obrolan, mulai dari jalanan menuju desa yang belum ada penerangan, hingga beberapa kisah mistis yang ada di kampung itu.

Pria tua itu mengaku sebagai sahabat ayahnya, Pak Basuki. Keduanya, kata dia, beberapa kali membantu warga yang kena guna-guna maupun gangguan makhluk halus.

Bersambung