<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel><title><![CDATA[Cermis]]></title><description><![CDATA[aktual dalam ingatan]]></description><link>http://cermis.id/</link><image><url>http://cermis.id/favicon.png</url><title>Cermis</title><link>http://cermis.id/</link></image><generator>Ghost 3.35</generator><lastBuildDate>Sat, 02 May 2026 12:38:46 GMT</lastBuildDate><atom:link href="http://cermis.id/rss/" rel="self" type="application/rss+xml"/><ttl>60</ttl><item><title><![CDATA[Teror Manusia Jadi-jadian (I)]]></title><description><![CDATA[Sekolah saya berubah mencekam. Darah bercucuran di mana-mana. Di sepanjang koridor depan kelas. Kami bertanya-tanya. Darah siapa ini? Bau amisnya minta ampun. ]]></description><link>http://cermis.id/teror-manusia-jadi-jadian/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d21</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Syariat Tella]]></dc:creator><pubDate>Thu, 16 Jan 2020 01:45:52 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2020/01/pixabaya-jadi-jadian.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="http://cermis.id/content/images/2020/01/pixabaya-jadi-jadian.jpg" alt="Teror Manusia Jadi-jadian (I)"><p></p><p><strong><em>Sekolah saya berubah mencekam. Darah bercucuran di mana-mana. Di sepanjang koridor depan kelas. Kami bertanya-tanya. Darah siapa ini? Bau amisnya minta ampun.</em> </strong></p><p><strong>Cermis.id </strong>- Ini menjadi pengalaman mistis yang tak terlupakan. Masih membekas diingatan hingga saya telah berkeluarga. 22 tahun silam, saat saya berumur sepuluh tahun. Masa kecil memang indah dikenang. Tidak dikekang oleh tuntutan hidup yang membuat pening di kepala. Bisa tertawa lepas. Mandi di kali hingga main kelereng. Bahagia betul saat itu.  Kami keluarga sederhana. Status bapak saya sebagai PNS cukup untuk mengasapi dapur kami. Juga cukup untuk subsidi pembeli kelereng. </p><p>Selain bapak, saya juga tak pernah lupa kebaikan paman Anto. Orang yang sangat termasyur di kampung kami karena sikapnya yang dermawan. Pernah suatu ketika saya diberi selembar uang lima ribu . Nominal yang sangat banyak di masanya, 90-an. Apalagi yang menerima adalah bocah ingusan seperti saya. Bahagia tak terkira. </p><p>Uang sebanyak itu kuserahkan kepada ibu. Karena saya bingung ke mana mau kubelanjakan. Yang melayang-layang dipikiranku hanyalah makanan, kelereng dan bola sepak. Namun ibu sungguh bijak. Uang itu digunakan untuk keperluan sekolah. Mulai dari seragam hingga buku tulis. “Ini agar menjadi amal jariyah bagi paman Anto,” kata ibu diikuti anggukan kepalaku. </p><p>Di kampung kami jaringan listrik belum merata. Karenanya, jangan harap ada penerangan di malam hari. Makanya, saat petang kami harus beranjak ke rumah. Pernah saya membandel memilih balik saat salat magrib telah ditunaikan di surau. Ibu dan bapak marah betul. “Jangan pulang malam. Lihat itu sepupumu, gila setelah hilang seharian karena disembunyi setan,” kata bapak. </p><p>Cerita anak dari saudara bapak saya itu memang menjadi perbincangan di kampung. Sejak kejadian itu, para orang tua melarang kami bermain hingga jelang magrib. Dari cerita-cerita yang saya dengar, sepupu saya itu menghilang saat hendak mencari bolanya yang jatuh di dekat selokan. Kala itu jelang magrib. Sekitar 50 meter dari selokan memang terdapat lima kuburan tua. Katanya di situlah sepupuku hilang. Dia baru ditemukan esok paginya. </p><p>Adalah penjaga sekolah kami yang menemukan dia saat hendak masuk WC. Sepupu saya masih dalam keadaan terjaga. Hanya saja tatapannya kosong. Saat ditemukan katanya, dia baru seperti sudah memakan sesuatu. Kata penjaga sekolah, seperti kotoran manusia yang mengering. Itu dilihat dari tangan kanan dan sisa-sisa bekas kotoran di mulutnya. </p><p>Saat mulai tersadar, dia seperti shock berat. Menangis dan berteriak. “Ampun…ampun…ampun..,” teriak sepupu saya. “Ini ibu nak… ini bapak…kamu sudah ada di rumah sekarang,” sergah paman, yang tak lain adalah ayah dari sepupuku itu. </p><p>Dengan terbata-bata, sepupu saya mencoba mengumpulkan kembali ingatannya. Katanya ada bayangan hitam yang menyambar saat hendak mengambil bola di sekitar selokan itu. Entah bagaimana dirinya sudah berada di dalam WC. Badanya tiba-tiba kaku. Ingin teriak namun tak bisa. Bayangan hitam itu terus mengawasinya. “Tinggi sekali hitam semua, kecuali matanya,” ungkap dia. </p><p>Sebenarnya sepupu saya sempat mendengar lolongan warga yang berteriak mencarinya. Ingin diresponsnya mulutnya dirasa kaku. Pita suaranya seperti tertahan. Semakin ingin berontak, semakin sulit untuk bergerak. </p><p>Bayangan itu pun menyuruh dia untuk menyantap hidangan yang tersaji di depannya. Jika tidak dilakukan maka sesuatu yang buruk akan menimpanya. Begitu kata sepupu saya meniru kata dari bayangan hitam itu. </p><p>Karena ketakutan, sepupu saya mengunyah makanan itu. Malam makin larut, bayangan hitam itu menyatu dalam kegelapan. Cuma matanya yang kelihatan, bayangan itu hilang sesaat setelah sepupu saya melahap  hidangan itu sampai habis. Makanan yang baru diketahui ternyata itu kotoran manusia. </p><p>Sejak kejadian itu, tingkah sepupu saya jadi aneh. Kadang menangis tanpa sebab dan tiba-tiba ketawa. Dia juga tak merespons saat diajak bicara.  Dokter pun mendiagnosa untuk segera mendapat penanganan psikiater. Beberapa orang pintar yang mencoba untuk mengobati juga hasilnya nihil. Hingga kini sepupu saya itu diasingkan dari kampung dan direhabilitasi di rumah sakit tempat orang yang mengalami gangguan kejiwaan. </p><p>Menakutkan memang setiap kali kisah itu diceritakan kepada kami. Terutama saya yang kerap bandel pulang ke rumah saat azan magrib telah dikumandangkan. Karena takut saya pun lupa kalau kuping ini masih sakit karena dijewer. </p><p>Menyambut tahun ajaran baru, saya kini duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Semangat betul saya untuk segera berangkat ke sekolah, setelah libur hampir dua pekan. Juga sudah tak sabar ingin memperlihatkan sampul buku baru saya yang bergambar wajah pemain bola yang tersohor di daratan eropa. </p><p>Tak lupa seragam baru, ingin rasanya segera dipamer. Dan itu semua berasal dari uang pemberian paman Anto yang dermawan itu. Dia begitu rajin sedekah dan berbagi. Berempati kalau ada orang sakit di kampung kami.</p><p>Paman Anto pula yang berjasa membawa sepupu saya saat hendak direhab di rumah sakit. Di kampung kami hanya paman Anto yang memiliki mobil. Istrinya juga begitu baik.</p><p>Karena seorang pengusaha, paman Anto kadang pulang seminggu sekali di kampung. Makanya kedatangannya begitu dirindukan. Termasuk saya. </p><p>Namun beberapa hari belakangan, paman Anto tak kemana-kemana. Dia di rumahnya saja. Hanya saja kalau ada orang ingin menjenguk tidak diperkenankan. Paman Anto tak mau diganggu. </p><p>Di kampung kami rumah paman Anto lah yang paling mencolok. Pekarangannya luas, bisa untuk main bola. Sayangnya dia belum dikaruniai anak. Dia hanya tinggal bersama istri dan tiga orang pembantunya. Saya dan bersama teman sebaya pun berangan-angan andai kami diadopsi paman Anto. Ah sudahlah. </p><p>Saya pun bergegas menuju ke sekolah. Langkah kupercepat, kadang berlari kecil. Jarak rumah ke sekolah hanya sekitar 500 meter. Di belakang sekolah ada hamparan sawah yang cukup luas. </p><p>Semua hal-hal indah yang kubayangkan termasuk pamer baju baru seketika buyar saat guru-guru kami kelihatan panik. Niatnya ingin hura-hura, namun berubah jadi huru hara. Saya pun kaget, ketika melihat darah bercecer di mana-mana. Di sepanjang koridor. Darah siapa ini?<br></p><p><em><strong>Bersambung</strong></em></p><p>Tulisan ini sebelumnya telah tayang di media online <strong>Lontar.id</strong>: <strong><a href="https://lontar.id/4553/ada-teror-manusia-jadi-jadian-di-kampung-kami/">Ada Teror Manusia Jadi-jadian di Kampung Kami</a></strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Matanya Merah, Suanggi Itu Menatap ke Arahku]]></title><description><![CDATA[Si ibu yang kebingungan terus berusaha menenangkan sang anak. 

Keduanya lalu mempercepat langkah mereka melewati hutan bambu. Malam itu begitu sunyi.]]></description><link>http://cermis.id/matanya-merah-suanggi-itu-menatap/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d20</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><category><![CDATA[Mistik]]></category><dc:creator><![CDATA[Syariat Tella]]></dc:creator><pubDate>Sun, 12 Jan 2020 14:37:41 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2020/01/Horor-Malam-Pixabay.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="http://cermis.id/content/images/2020/01/Horor-Malam-Pixabay.jpg" alt="Matanya Merah, Suanggi Itu Menatap ke Arahku"><p><strong>“Matanya merah. Suanggi itu menatap ke arahku ma, dia terbang di pohon bambu.”</strong></p><p><strong>Cermis.id –</strong> Anak itu berteriak histeris. Tangan kanan menutup kedua matanya, sementara tangan kiri terus menggenggam tangan ibunya. “Suanggi, suanggi,” teriak anak berusia sekitar 8 tahun itu.</p><p><strong>Cerita Lainnya: <strong><a href="http://cermis.id/pengalaman-tinggal-di-rumah-angker-milik-bangsawan-bali-1/">Pengalaman Tinggal di Rumah Angker Milik Bangsawan Bali (1)</a></strong></strong></p><p>Si ibu yang kebingungan terus berusaha menenangkan sang anak. Keduanya lalu mempercepat langkah mereka melewati hutan bambu. Malam itu begitu sunyi.</p><p>Ibu bersama anak lelakinya itu baru saja usai menunaikan hajat kepada keluarga mereka di kampung sebelah. Jarak rumah mereka dengan kampung tetangga membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih jika berjalan kaki.</p><p><strong><strong><a href="http://cermis.id/susah-meninggal-gegara-ilmu-kanuragan/">Susah Meninggal Gegara Ilmu Kanuragan</a></strong></strong></p><p>Sesampainya di rumah, sang anak masih terus menceritakan apa yang dilihatnya di hutan bambu tadi.</p><p>“Matanya merah. Suanggi itu menatap ke arahku ma, dia terbang di pohon bambu,” ujar sang anak.</p><p>“Stop nak. Itu mungkin cuma bayangan,” kata sang ibu berusaha menenangkan.</p><p>Belum usai diskusi anak dan ibu ini, sang ayah lalu memecah pembicaraan.</p><p>“Itu bukan suanggi nak, mungkin kelelawar yang kamu lihat,” ujar sang ayah yang sejak tadi mendengar pembicaraan keduanya.</p><p>Sudar merupakan anak pertama pak Ramli dan Bu Ani. Sejak menikah 10 tahun lalu, pak Ramli dan Bu Ani menetap pada sebuah kampung di wilayah Seram Timur, Provinsi Maluku.</p><h3 id="mengingkari-janji-pada-ki-blendo-jin-penunggu-kampung-1-"><a href="http://cermis.id/mengingkari-janji-pada-ki-blendo-jin-penunggu-kampung/">Mengingkari Janji pada Ki Blendo Jin Penunggu Kampung (1)</a></h3><p></p><p>Kampung mereka merupakan sebuah pulau yang luasnya sekitar 10 km. Pulau ini dikelilingi laut dengan sumber utama mata pencaharian kebanyakan penduduk adalah nelayan.</p><p>Anak Bu Ani ini begitu akrab dengan saya. Kami bertetangga dan punya hubungan yang baik. Bu Ani pernah ditinggal sang suami merantau sekitar 5 tahun. Sekembalinya dari rantau, pak Ramli membangun rumah mereka menjadi dua lantai.</p><p>Sebuah rumah batu besar di tengah perkampungan yang mayoritas rumah warga hanya beralas tanah dan bertiang kayu, jelas membuat rumah pak Ramli begitu mencolok. Akhir-akhir ini kampung kami sedang ramai cerita tentang suanggi. </p><p>Hal itu setelah seorang warga meninggal dengan tidak wajar. Pak Damis awalnya tak pernah mengeluh sakit. Tapi keesokan harinya, ia sudah ditemukan dengan badan membiru, dan salah satu organ tubuhnya hilang.</p><p><a href="http://cermis.id/hantu-hantu-di-menara-saidah-1/"><strong>Hantu-Hantu di Menara Saidah (1)</strong></a></p><p>Beberapa orang pintar curiga pak Damis meninggal karena dibunuh oleh suanggi. Makhluk jadi-jadian yang punya ilmu hitam. Seperti virus, cerita-cerita itu cepat tersebar ke mana-mana. Saking hebohnya cerita suanggi ini, seorang anak kecil seperti Sudar ikut dicekoki cerita tersebut.</p><p><strong><strong><a href="http://cermis.id/boneka-kayu-pembawa-petaka-1/">Boneka Kayu Pembawa Petaka</a></strong></strong></p><p>Masalah inilah yang disebut bu Ani mengganggu sang anak. Pada malam hari, Sudar mengaku sering melihat wujud Suanggi di halaman depan rumahnya. Malam berikutnya, saat Sudar mengikuti ibunya berbelanja ke sebuah warung, Sudar kembali mengagetkan sang ibu.</p><p>“Itu ada suanggi ma, itu dia, saya takut. Dia sembunyi di dekat pohon,” ujar Sudar terus berteriak.</p><p>Teriakan histeris sang anak membuat Bu Ani terpaksa batal belanja pada malam itu. Keresahan Bu Ani akan tingkah laku Sudar membuatnya terpaksa memanggil orang pintar. </p><p><strong><strong><a href="http://cermis.id/ceramah-untuk-warga-pemakaman-desa/">Ceramah di Pemakaman Desa</a></strong></strong></p><p>Orang pintar yang dianggap mampu menyembukan gejala ketakutan sang anak malah menganggap apa yang dilihat Sudar itu benar.</p><p>“Sudar ini punya kelebihan. Dia bisa melihat hal-hal tak biasa, termasuk makhluk halus,” ujar sang dukun.</p><p>Mendengar jawaban itu, Bu Ani semakin kebingungan. </p><p><strong><strong><a href="http://cermis.id/lampor-dan-empat-kerdilnya-hampir-membunuh-kholil/">Lampor dan Empat Kerdilnya Hampir Membunuh Kholil</a></strong></strong></p><p>Sikap aneh Sudar saat keluar malam hari semakin meyakinkan keberadaan suanggi di kampung mereka. Kabar soal suanggi juga membuat warga kampung secara bergantian melakukan ronda pada malam hari.</p><p><strong><strong><a href="http://cermis.id/istri-saya-seorang-parakang-i/">Istri Saya Seorang Parakang I</a></strong></strong></p><p>Saat tengah malam, Bu Ani juga sering terbangun mendengar suara orang melintas depan rumahnya. Kadang dia berpikir, itu adalah warga yang ronda. Namun, yang aneh menurutnya, ketika dia terbangun sang suami juga sering tak berada di sampingnya.</p><p><strong><strong><a href="http://cermis.id/lelaki-kebal-itu-tewas-saat-menyentuh-air/">Lelaki Kebal Itu Tewas Saat Menyentuh Air</a></strong></strong></p><p>Hal inilah yang kerap diceritakan Bu Ani kepada kami, tetangga dekatnya. Ia merasa, ada keanehan dengan sang anak dan suaminya. Hal itu sudah 3-4 tahun lalu mulai dirasakannya.</p><p><strong>Bersambung</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Diselamatkan Hantu Jangkung (Tamat)]]></title><description><![CDATA[Tiba-tiba Rini terdiam. Wajahnya kembali tegang, persis seperti saat dia melihat hantu jangkung tadi.]]></description><link>http://cermis.id/diselamatkan-hantu-jangkung-tamat/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d1f</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Fri, 22 Nov 2019 14:01:59 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/zombie-2662916_960_720.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/zombie-2662916_960_720.jpg" alt="Diselamatkan Hantu Jangkung (Tamat)"><p><strong>Menurut Rini, orang pintar itu mengatakan, hantu jangkung tersebut akan selalu muncul saat Rini terancam bahaya. "Saya heran, dia sudah lama tidak muncul, tapi tiba-tiba datang lagi," ucapnya khawatir.</strong></p><p>Rini mengernyitkan dahinya. Tatapannya padaku menjadi sedikit aneh. Mungkin dia curiga aku berniat mencelakainya, karena tiba-tiba saja hantu jangkung itu kembali muncul.</p><p>Obrolan kami menjadi sedikit kaku. Aku yakin dia benar-benar curiga padaku. Perubahan sikapnya benar-benar kentara. Rini bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan rasa curiga.</p><p>Dia bergeser menjauh beberapa sentimeter dari tempat awal, lalu dia mengeluarkan ponselnya, memencet-mencet layar, kemudian memasukkan kembali ke dalam kantong.</p><p>"Eh, saya sudah aktifkan lokasiku, sudah konek ke HPnya temanku, jadi ke mana pun saya pergi, temanku bakal tahu lokasiku," ucapnya.</p><p>Awalnya aku tidak paham maksud perkataan itu, tapi setelah menghubung-hubungkan dengan kejadian dan sikapnya yang tiba-tiba berubah, aku menduga dia mencoba memperingatkan aku, agar tidak berbuat jahat padanya.</p><p>"Kamu curiga aku mau ngapa-ngapain kamu ya?," tanyaku tanpa tedeng aling-aling.</p><p>Rini memaksa diri untuk tertawa. Dia tidak membantah atau membenarkan dugaanku. Lalu menyulut sebatang rokok dan berdiri dengan tangan sedekap, menatap kosong ke laut yang gelap.</p><p>Tanpa menoleh, Rini kembali berujar padaku. Dia mengaku sejak mengetahui niat pacarnya, dia curiga pada setiap orang. Apalagi jika hantu jangkung itu muncul.</p><p>"Sekarang coba kamu bayangkan. Hantu jangkung itu tidak pernah muncul selama bertahun-tahun. Tapi saat saya bertemu kamu, dia tiba-tiba datang. Apa salah kalau saya curiga?," tanyanya.</p><p>"Tidak salah kalau kamu curiga. Apalagi dengan kejadian aneh yang kamu alami. Tapi kan kita kenal bukan baru dua atau tiga tahun, Rin," jawabku membela diri.</p><p>Jujur saja, aku mulai tersinggung dan merasa tidak nyaman dengan kecurigaannya. Karena aku sama sekali tidak punya niat jahat pada Rini. Bagaimana bisa aku berniat mencelakainya jika aku sangat mencintai gadis 'aneh' itu.</p><p>Tapi sepertinya malam ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan hal itu. Karena penjelasanku bisa saja membuatnya semakin curiga.</p><p>"Terus kenapa dia datang lagi?," Rini mengulang pertanyaannya.</p><p>"Mana saya tahu, Rin. Mungkin dia cemburu karena kita dekat. Kan paranormalnya bilang kalau hantu itu suka sama kamu," jawabku sekenanya.</p><p>Rini menoleh ke arahku, tapi tubuhnya masih menghadap ke lautan luas. Sepertinya aku salah menjawab pertanyaannya. "Dia cemburu sama kamu? Kok bisa?," dia bertanya penuh selidik.</p><p>Baru kali ini aku dibuat tidak bisa banyak bicara di hadapan cewek. Mungkin jika pertanyaan itu disampaikan oleh gadis lain, aku akan spontan menjawab bahwa aku menyukainya. Tapi, gadis ini adalah Rini, perempuan yang sejak bertahun-tahun lalu aku menyimpan rasa.</p><p>"Jawabanmu masuk akal. Bisa saja hantu itu cemburu. Tapi kenapa? Kenapa dia harus cemburu sama kamu?," ulangnya.</p><p>"Ha ha ha ha... Aku jawab sekenanya kok, Rin," aku mencoba menutupi perasaanku. Aku tidak mau dia tahu bahwa aku menyukainya.</p><p>"Kalau kamu tidak bisa kasih jawaban yang jelas, saya anggap hantu itu datang untuk menyelamatkan aku dari niat jahat orang lain," dia mencoba memancingku.</p><p>Aku sedikit terpancing. Lebih baik dia tahu bahwa aku menyukainya, daripada dia mengira aku berniat mencelakainya. Tapi keduanya bukan hal yang menguntungkan aku pada saat ini.</p><p>Rini menatapku tajam. Membuat aku semakin salah tingkah. Ujung hijabnya yang berkibar, membuatnya terlihat seperti rambut sailor moon yang tertiup angin. Cukup menakutkan menurutku.</p><p>"Iya, mungkin hantu itu cemburu karena dia tahu bahwa sejak lama aku suka kamu. Atau mungkin dia juga tahu bahwa kamu menyimpan rasa yang sama untukku," jawabku penuh spekulasi.</p><p>Rini terbatuk. Sepertinya dia tersedak asap rokoknya sendiri. Lalu dia tertawa keras. Beberapa pengunjung pantai menoleh ke arahnya. Tapi dia cuek.</p><p>"Kamu beneran? Tidak salah minum obat kan?," tanyanya seolah tak percaya.</p><p>Dia melangkah menuju ke arahku. Tiba-tiba tangannya terulur ke arah dahiku. Dia menempelkan punggung telapak tangannya di situ, kemudian menggeleng sambil tertawa. Kali ini tawanya lebih keras. "Sedikit hangat ha ha ha," ejeknya.</p><p>Aku tersenyum kecut menanggapi candaannya. Meski hatiku mulai lega. Rini tidak lagi menjaga jarak seperti tadi.</p><p>Sepertinya aku mulai berubah pikiran, dan mencoba peruntunganku. Otakku berpikir cepat. Mumpung suasana hati Rini sedang bagus dan aku juga terlanjur mengatakan bahwa aku menyukainya.</p><p>"Rin, saya serius lho bilang suka sama kamu. Ini sudah lama tersimpan. Cuma saya tidak pernah dapat waktu yang pas untuk bilang ke kamu," kataku.</p><p>"Ha ha ha... Wajahmu kok serius banget? Santai aja kali. Siapa tahu saya juga suka kamu, kan gayung bersambut," godanya.</p><p>"Gimana kalau kita jadian aja, kita lihat apakah makhluk jangkung itu akan datang lagi?," usulku sekenanya, sambil mencoba meraih jemarinya.</p><p>Jawaban Rini sungguh di luar dugaan. Aku tidak bertepuk sebelah tangan. Rini  menerimaku, meski dia menjawab 'tembakanku' dengan tawa kerasnya.</p><p>"Ha ha ha... Iya, jadi mulai sekarang kita pacaran?," godanya lagi.</p><p>"Iya, mulai hari ini kita pacaran. Kita lihat apa yang bisa dilakukan hantu jangkung itu," ujarku.</p><p>Tiba-tiba Rini terdiam. Wajahnya kembali tegang, persis seperti saat dia melihat hantu jangkung tadi. Aku menoleh ke arah tatapan mata Rini. Dugaanku benar. Hantu itu datang kembali. Sorot matanya tajam ke arah kami berdua.</p><p>Hantu jangkung itu terlihat marah bercampur kecewa. Tapi dia tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri sambil terus mengawasi kami.</p><p>Rini menggenggam jemariku erat. Jarinya basah oleh keringat dingin. Aku membalas genggamannya untuk menyemangati.</p><p>Aku mengajak Rini untuk pulang, sekaligus untuk melihat reaksi hantu jangkung itu. Apakah dia akan menghalangi jalan kami atau hanya melihat dari jauh.</p><p>Saat aku dan Rini melangkah menuju area parkir untuk mengambil sepeda motor, hantu jangkung itu tidak bergerak dari tempatnya. Hanya sorot matanya yang mengikuti kepergian kami.</p><p>"Sepertinya benar, dia cemburu padamu," bisik Rini padaku.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Diselamatkan Hantu Jangkung (2)]]></title><description><![CDATA[Hantu jangkung tersebut akan selalu muncul saat Rini terancam bahaya.]]></description><link>http://cermis.id/diselamatkan-hantu-jangkung-2/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d1e</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Wed, 20 Nov 2019 12:26:50 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-20-at-00.26.14.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-20-at-00.26.14.jpeg" alt="Diselamatkan Hantu Jangkung (2)"><p><strong>Aku tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Yang pasti makhluk itu sangat menyeramkan. Apalagi saat dia menatap kami berdua. Mata makhluk itu seperti hampir keluar dari lubangnya.</strong></p><p>Aku takut bercampur heran, karena selama ini aku tidak pernah melihat makhluk-makhluk aneh. Bahkan tadi, beberapa menit lalu, aku belum melihatnya. Atau mungkin saat darahku bertemu dengan darah Rini, aku jadi bisa melihatnya?. Entahlah.</p><p>Makhluk itu memperhatikan kami. Tangannya yang panjang terjuntai. Lalu dia menatap Rini, seolah ingin memberitahukan sesuatu. Tapi bibirnya tetap terkatup, tidak mengeluarkan suara apa pun.</p><p>Perlahan tubuh makhluk itu mengeluarkan asap tipis berwarna merah, semerah langit senja tadi. Asap itu menebal dan menyelimuti seluruh tubuh makhluk aneh tersebut, lalu kembali menipis tertiup angin, bersamaan dengan hilangnya makhluk itu.</p><p>Aku menoleh ke arah Rini. Tatap matanya masih mengarah ke tempat makhluk tadi berdiri. Dari sela hijabnya, keringat dingin terlihat di dahi Rini.</p><p>"Itu tadi apa? Kenapa tiba-tiba saya bisa lihat makhluk ndak jelas?," tanyaku penasaran.</p><p>Beberapa saat dia terdiam, seperti enggan menjawab pertanyaanku. Dia kembali menyulut rokoknya, sepertinya gadis ini butuh menenangkan diri. Aku berdiri untuk mengambilkan kopinya. "Ngopi dulu, supaya ndak terlalu tegang," saranku.</p><p>Rini mengangguk. Dia menyeruput pelan kopinya yang tinggal setengah cangkir. Ujung hijabnya menari tertiup angin pantai, membuat sebagian rambutnya terlihat. Tapi Rini cuek. Dia tidak membetulkan letak jilbabnya.</p><p>"Itu tadi makhluk yang datang pas magrib. Makhluk itu juga yang dulu menyelamatkan aku," ucapnya.</p><p>Rini lalu menceritakan, dia sengaja membeli jarum untuk melukai jemari kami, karena dia yakin bahwa makhluk itu akan kembali. "Makanya saya lukai jarimu juga, supaya kamu bisa lihat makhluknya. Seram kan?," tanyanya.</p><p>Aku tersenyum kecut mendengar pertanyaannya. Tapi penjelasan Rini membuatku berbesar hati bahwa dia akan menceritakan kisah seram yang dialaminya.</p><p>"Memangnya dulu awalnya bagaimana? Kok bisa makhluk itu membantumu?," tanyaku.</p><p>"Sebetulnya saya malas sekali mengingat-ingat kejadian waktu itu. Saya merasa saat itu bodoh sekali," ucapnya.</p><p>Lalu dia menceritakan, bahwa waktu itu dia sedang jatuh cinta dan menjalin asmara dengan Reno, seniornya di kampus. Reno, kata Rini, memiliki segudang kelebihan. Mulai dari wajah yang tampan, cerdas, jago main musik, hingga pintar merayu.</p><p>Sebagai mahasiswi baru, Rini, seperti juga beberapa teman angkatannya yang lain, jatuh cinta pada Reno. Waktu itu Rini merasa lebih 'beruntung', karena Reno penasaran pada Rini, yang hampir sama dengan namanya sendiri.</p><p>Sebulan berlalu setelah keduanya saling mengenal. Reno pun mengungkapkan perasaannya pada Rini. Gayung bersambut, Rini menerima cinta Reno, tanpa tahu bahwa Reno memiliki beberapa pacar lain.</p><p>"Dia bukan cuma playboy. Kalau istilahnya teman-teman, dia itu PK, penjahat kelamin," kata Rini geram.</p><p>Hanya dua pekan setelah mereka jadian, Reno mengajak Rini untuk berwisata di Malino, dataran tinggi di Kabupaten Gowa. Di situlah peristiwa itu terjadi. Reno memasukkan obat perangsang pada minuman Rini.</p><p>Saat Rini akan meminum minuman yang diberikan Reno, tiba-tiba makhluk mengerikan itu muncul. Tubuh Rini gemetar saat melihatnya. Makhluk itu melotot, membuat Rini kembali meletakkan gelas minumannya.</p><p>Tapi makhluk itu justru semakin mendekat. Membuat Rini berteriak terpekik. Reno yang berdiri tidak jauh darinya pun terkejut.</p><p>Rini berdiri, dia berniat untuk lari menuju Reno, tapi bersamaan dengan itu, tangan panjang makhluk itu mengibaskan gelas berisi minuman bercampur obat perangsang hingga tumpah. Setelah itu, makhluk menyeramkan tersebut hilang.</p><p>Reno berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan. Dia mencoba memeluk Rini, tapi Rini menolak halus. Rini lalu menceritakan tentang hantu jangkung itu.</p><p>Malam itu Rini selamat dari niat jahat Reno. Keduanya hanya ngobrol di resto vila tersebut, lalu masuk ke kamar masing-masing.</p><p>Sebetulnya Reno sangat gusar dengan keiadian itu. Rencana untuk menyetubuhi Rini sudah diaturnya sejak  pekan lalu. Tapi itu harus gagal cuma gegara Rini ketakutan melihat hantu jangkung.</p><p>Sambil berbaring di tempat tidurnya, Reno mencoba menyusun rencana selanjutnya. Setengah jam kemudian Reno kembali berdiri, lalu keluar kamar menuju kamar Rini.</p><p>Dia mengetuk pintu kamar Rini. Reno berniat merayu Rini agar mau tidur sekamar dengannya. "Rin, kamu tidak takut kalau nanti hantu itu datang lagi? Aku temenin tidur di kamarmu ya," Reno menakuti Rini.</p><p>"Jangan deh. Saya lebih takut tidur bareng manusia daripada diganggui hantu," Rini menolak halus dengan candaan.</p><p>Reno kembali ke kamarnya. Dia semakin geram atas penolakan Rini. Dia mulai berpikir,  jika Rini tidak bisa disetubuhi dengan cara halus, dia akan mencobanya dengan cara kasar.</p><p>Reno tidak bisa tidur nyenyak malam itu. Otak kotornya terus berusaha mencari cara untuk bisa menikmati tubuh Rini. Nafsunya kian memuncak, membuat matanya enggan terpejam.</p><p>Menjelang subuh barulah Reno mampu memejamkan mata. Tapi, dalam tidurnya pun dia bermimpi menyetubuhi Rini.</p><p>Beberapa pekan sejak kejadian itu, Reno kembali mencoba peruntungannya. Dia sudah merencanakan untuk memerkosa Rini di kamar kosnya.</p><p>Reno sengaja meminta Rini untuk datang ke kosnya. Dia berpura-pura sakit, agar Rini menjenguknya. Reno berencana menyuruh teman-temannya untuk seolah-olah menggerebeg mereka berdua di dalam kamar, dan memaksa Rini untuk bersetubuh dengan dia beserta teman-temannya, jika tidak mau dilaporkan pada polisi.</p><p>Hari itu Rini kuliah hingga pukul 17.00. Sepulang dari kampus, dia berencana langsung menuju kos Reno. Angin senja menemaninya keluar dari area kampus. Sesekali Rini menyapa temannya yang sedang menunggu pete-pete (mobil angkutan umum).</p><p>Dia menuju ke arah timur, menyusuri Jl Perintis Kemerdekaan, lalu berbelok ke kanan, ke daerah kos-kosan. Hari menjelang magrib saat dia memasuki daerah itu.</p><p>Lokasi di situ cukup ramai, di kiri dan kanan jalan terdapat beberapa warung makan. Rumah kos Reno terletak cukup jauh ke dalam. Rini harus melewati lorong padat penduduk, lalu berbelok ke kiri, melewati pemakaman umum yang cukup sunyi.</p><p>Tiba-tiba saja mesin sepeda motornya mati. Dia berusaha menyalakannya kembali, tapi hingga belasan kali dia memencet tombol starter, sepeda motornya tetap tidak mau menyala.</p><p>Rini turun dari sepeda motor dan memeriksa bensinnya. Tapi bensinnya masih ada setengah tangki. Rini kembali memasang kunci kontak dan men-starter sepeda motornya secara manual. Hasilnya nihil.</p><p>Dia berniat mendorong sepeda motornya menuju rumah kos Reno. Tinggal tiga kelokan lagi dia akan tiba di rumah kos Reno.</p><p>Tapi, tiba-tiba hantu jangkung itu kembali muncul dari pagar pemakaman. Hantu itu seperti membelah diri. Dia berubah menjadi sangat banyak. Mereka menutup jalan yang akan dilalui oleh Rini.</p><p>Rini berteriak ketakutan. Hampir saja dia ngompol melihat makhluk-makhluk itu. Rini juga hampir saja lari meninggalkan sepeda motornya. Untung saja mesin sepeda motor itu tiba-tiba hidup. Entah bagaimana cara dia menghidupkannya.</p><p>Tanpa menunggu lebih lama, Rini berbalik arah dan meninggalkan tempat itu secepatnya. Saking takutnya, dia membatalkan rencananya untuk menjenguk Reno.</p><p>Setibanya di rumah, belum sempat Rini mengganti pakaian, Reno sudah menelepon. Dia marah besar karena Rini tidak jadi menjenguknya.</p><p>"Bagaimana maumu? Katanya mau datang jenguk aku, tapi sampai jam segini belum datang," bentak Reno melalui telepon.</p><p>Rini menjelaskan alasan dirinya tidak jadi menjenguk Reno, termasuk tentang hantu jangkung yang pernah dilihatnya saat di Malino bersama Reno.</p><p>Reno tidak mau mengerti penjelasan Rini. Dengan nada penuh emosi, Reno memutuskan hubungan asmaranya dengan Rini.</p><p>"Di situ dia minta putus. Nah, sekitar dua bulan kemudian, baru saya tahu bahwa sejak di Malino dia sudah punya rencana jahat untuk saya. Beruntung sekali saya bubar sama dia," Rini menjelaskan padaku.</p><p>Selain menyelamatkan Rini dari niat jahat Reno, hantu jangkung itu juga pernah menyelamatkannya saat tersesat di hutan. Caranya hampir sama dengan cara dia menyelamatkan Rini dari rencana jahat Reno.</p><p>"Waktu di gunung saya sempat tersesat, tapi hantu itu tiba-tiba muncul di depanku. Otomatis saya ambil jalan lain yang ke kanan. Pas paginya, ternyata jalan yang lurus itu menuju jurang," tambah Rini.</p><p>Setelah beberapa kali bertemu makhluk itu, Rini menghubungi 'orang pintar', untuk menanyakan tujuan makhluk itu sering memperlihatkan diri pada Rini.</p><p>"Kata bapak itu, hantu jangkung suka sama saya. Dia selalu mau melindungi, supaya saya tidak terkena celaka," beber Rini.</p><p>Menurut Rini, orang pintar itu mengatakan, hantu jangkung tersebut akan selalu muncul saat Rini terancam bahaya. "Saya heran, dia sudah lama tidak muncul, tapi tiba-tiba datang lagi," ucapnya khawatir.</p><p><strong>Bersambung...</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Istri Saya Seorang Parakang XIII]]></title><description><![CDATA[Sementara itu, ia mengingat tadi sebelum turun tangga, kamar Mapta terbuka. Bajo belum sempat mengecek keadaan Mapta dan Aru. ]]></description><link>http://cermis.id/istri-saya-seorang-parakang-xiii/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d1d</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Ais Aljumah]]></dc:creator><pubDate>Wed, 20 Nov 2019 10:25:19 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/parakang_bag_1.png" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/parakang_bag_1.png" alt="Istri Saya Seorang Parakang XIII"><p><strong><a href="http://cermis.id/istri-saya-seorang-parakang-xii/">Baca Dulu: Istri Saya Seorang Parakang XII</a></strong></p><p><em>Cermis.id</em>- Dingin pagi buta menusuk hingga Bajo tak mampu menggerakkan badannya untuk bergegas mengambil air wudhu. Subuh hari seperti ini, air sangat dingin. Namun, pada siang hingga sore hari, cuaca sangat panas. Dulu, saat masa kanak-kanak, Bajo dan Mapta sering bermain-main di sungai, di belakang rumah Ibu Mapta. Waktu itu, baru berdiri satu pabrik semen. Cuaca masih tidak se-ekstrem saat ini. </p><p>Kini, ketika kita berada di lego-lego rumah Ibu Mapta, kita dapat melihat gunung yang semakin memendek dan tipis. Debu semakin banyak dan cuaca semakin panas. Warga kampung dan sebagian besar keluarga Mapta banyak yang menjadikan pabrik semen sebagai tumpuan hidupnya. Hingga saat ini, hidup tiga pabrik baru lagi yang memproduksi marmer. Warga semakin banyak yang bekerja di pabrik, mereka sebagian besar berusia muda dan belum berkeluarga. Biasanya selepas lulus SMP dan SMA mereka memilih bekerja di pabrik sembari mengurus sawah dan ladang yang masih ada dibandingkan harus ke kota untuk berinvestasi di kampus. </p><p><strong>Cerita Sebelumnya Lagi: <a href="http://cermis.id/istri-saya-seorang-parakang-i/">Istri Saya Seorang Parakang I</a></strong></p><p>Bajo berjalan menuju dapur yang berdekatan dengan tempat <em>mabissa-bissa </em>(tempat orang Bugis mencuci piring, menyimpang air untuk masak, mencuci beras, sayur, dsb. Semenjak banyak masyarakat Bugis yang menganut agama Islam, tempat mabissa-bissa juga menjadi tempat untuk bersuci atau berwudhu. </p><p>Suasana masih hening di rumah Mapta. Sepertinya belum ada yang terbangun sepagi itu. Ia melewati kamar Aru dan Mapta juga kamar Ibu Mapta menuju tempat mabissa-bissa. Kamar-kamar itu masih tertutup rapat. Namun, sehabis dari mengambil air wudhu, saat melewati kamar Mapta, ia melihat kamar itu terbuka lebar. Bajo beranggapan kalau itu Mapta yang membukanya meski di sekeliling rumah tak ada siapa-siapa. </p><p>Bajo menuruni tangga dan tak ada siapa-siapa juga di kolong rumah selain teriakan anak-anak yang baru pulang dari masjid memecah keheningan. Bajo kembali ke atas, baru di tangga ke dua, tiba-tiba suara keras muncul di atas genteng, membuat jantungnya berdebar keras. Suara itu seperti benda berat yang sengaja dijatuhkan. Bajo kemudia kembali naik ke rumah dengan cepat, namun sampai di atas rumah, para penghuni tak ada yang terbangun padahal suara itu amat besar. Bajo tiba-tiba merinding dan ia ingat belum shalat subuh. Ia kemudian bergegas menuju kamarnya, menunaikan shalat subuh. </p><p>Selepas shalat, Bajo menenangkan pikirannya. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi. Sementara itu, ia mengingat tadi sebelum turun tangga, kamar Mapta terbuka. Bajo belum sempat mengecek keadaan Mapta dan Aru. </p><p>Sejenak kemudian, ia seperti tak bisa menggerakkan badannya dan suara keras dari genteng rumah kembali datang.  </p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Diselamatkan Hantu Jangkung (1)]]></title><description><![CDATA[Aku tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Yang pasti makhluk itu sangat menyeramkan. Apalagi saat dia menatap kami berdua. Mata makhluk itu seperti hampir keluar dari lubangnya.]]></description><link>http://cermis.id/diselamatkan-hantu-jangkung-1/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d1c</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Wed, 20 Nov 2019 08:25:05 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-19-at-20.24.09.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote><strong>Sebetulnya Rini enggan menceritakan kejadian yang dialaminya pada 2008 silam. Saat itu dia masih mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi di Makassar.</strong></blockquote><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-19-at-20.24.09.jpeg" alt="Diselamatkan Hantu Jangkung (1)"><p>Awalnya, Rini selalu mengalihkan pembicaraan, jika ditanya tentang kejadian misterius yang dialaminya waktu itu. Dia selalu berusaha menghindar.</p><p>Aku sangat memahami pribadi Rini. Semakin dia merasa ditekan atau dipaksa, akan semakin rapat pula dia menyimpan kisahnya. Satu-satunya cara agar dia menceritakan kejadian itu, adalah dengan mengajaknya bersantai.</p><p>Seperti saat ini, aku mengajaknya ngopi sambil menikmati senja di tepi Pantai Losari. Meski senja di sini tak lagi seindah beberapa tahun lalu, tapi setidaknya bisa membuat Rini merasa lebih rileks.</p><p>Ya, senja di Losari saat ini tidak lagi semanis beberapa tahun lalu. Daratan yang memanjang dari arah jalan Metro Tanjung Bunga ke arah utara, seperti codet yang hadir pada wajah pantai itu, meski kadang tersamar oleh jingga matahari yang terbenam di balik horizon.</p><p>Kami memulai pembicaraan dengan hal-hal ringan. Mulai dari candaan, saling ejek tentang kisah masa lalu, dan tentu saja dibumbui cukup banyak gombalanku.</p><p>Aku tahu, kali ini Rini benar-benar merasa rileks. Tawanya lepas, seperti burung-burung putih yang terbang menuju pulang. Raut wajahnya bercahaya, menurutku lebih berbinar daripada mentari senja ini. Kacamata dan kawat giginya menambah kesempurnaan Rini.</p><p>Satu lagi yang membuat gadis relijius ini semakin menawan. Dia selalu tampil apa adanya. Rini tidak risih menjepit sebatang rokok kretek tanpa filter di antara telunjuk dan jari tengahnya. Rokoknya Dji Sam Soe, bro. Bukan rokok putih atau rokok-rokok ringan lainnya.</p><p>Sepertinya aku mulai ngelantur. Seharusnya aku menceritakan tentang pengalaman Rini diselamatkan oleh makhluk halus. Setidaknya dimulai dengan dia bersedia menceritakan kisahnya.</p><p>Setelah hampir setengah jam kami bercanda, aku mulai mencari cara untuk mengupas sedikit demi sedikit pengalamannya. Aku memulai dengan menunjukkan cerita seram dari <strong>cermis.id</strong> padanya.</p><p>Aku menunjukkan cerita tentang arwah korban kecelakaan yang meminta tolong pada pemuda. Aku berpura-pura meminta pendapatnya tentang cerita itu.</p><p>"Kalau menurutku itu bisa saja terjadi," kata Rini tanpa menjelaskan alasannya.</p><p>Rini melanjutkan kegiatannya, memotret beberapa perahu nelayan yang melintas, lalu menyeruput kopi hitam pesanannya.</p><p>Dua pengamen tiba-tiba muncul di hadapan kami. Mereka menyanyikan lagu milik Iwan Fals, kalau tidak salah, judulnya Kemesraan.</p><p>Aku dan Rini menyimak lagu yang dibawakan hingga usai. Lalu, Rini mengulurkan uang pecahan Rp2 ribu dan memberikan dua batang rokok kreteknya.</p><p>Tiba-tiba Rini terdiam. Wajahnya tampak tegang. Matanya menatap ke pinggir laut, tepat di bibir pantai. Aku menoleh ke arah tatap matanya menyorot. Tidak ada siapa pun atau apa pun di situ. Hanya ada beberapa anak bermain di bebatuan, tapi letaknya beberapa meter dari situ.</p><p>Suara azan Magrib mulai terdengar, seperti bersaing dengan deru knalpot kendaraan di jalan itu. Aku memanggil Rini, untuk mengingatkan bahwa waktu magrib sudah tiba. Tapi dia seperti tak mendengar suaraku. Matanya terus memperhatikan tempat yang sama.</p><p>Aku mengulang panggilanku. Kali ini dengan suara yang lebih kencang, sambil mencubit pelan lengannya. Rini menoleh, wajahnya masih terlihat tegang. Tapi dia berusaha menutupinya dengan tersenyum.</p><p>Rini mengambil kopinya, lalu dengan jemari sedikit bergetar, dia menyeruput pelan. Kemudian mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, dan menyulutnya.</p><p>Bibirnya yang tanpa lipstik membentuk lingkaran kecil, mengembuskan asap rokok. Aroma tembakau berbaur dengan bau khas lautan dan asap pisang epe yang dibakar tak jauh dari situ.</p><p>"Saya ke masjid dulu, mau salat Magrib. Nanti saya ceritakan apa yang tadi saya lihat," ucapnya sambil berdiri dan melangkah menuju masjid.</p><p>Aku menunggunya di situ, membiarkan Rini yang melangkah dengan sedikit tergesa. Dalam hati aku menerka-nerka apa yang dilihat atau dipikirkan Rini tadi.</p><p>Senja mulai beranjak, perlahan berganti dengan malam yang mengirim kelam. Warna jingga keemasan di langit masih terlihat, tetapi mulai berbaur dengan hitam dan bulan yang berbentuk seperti mangkuk besar berwarna kuning pucat.</p><p>Lampu-lampu mulai dinyalakan.  Beberapa toko dan bangunan seperti sengaja memasang lampu yang berkedip. Suara lagu dangdut koplo dari beberapa pedagang kaki lima, semakin kencang terdengar.</p><p>Kuambil sebatang rokok milik Rini yang ditinggalkan di atas meja. Kebetulan rokok kesukaanku sama dengan miliknya. Aku yakin dia tidak akan marah.</p><p>Sambil menunggu Rini kembali, aku mencoba mencari cara agar dia mau menceritakannya malam ini, karena besok belum tentu dia punya waktu bersantai seperti saat ini.</p><p>Hampir lima belas menit berlalu, Rini belum juga datang. Mungkin dia menunggu hingga waktu salat Isya tiba. Itu berarti aku masih harus menunggu hingga satu jam ke depan.</p><p>Ternyata dugaanku salah. Dari jauh aku melihatnya menyeberang jalan sambil menenteng kantong plastik putih. Sepertinya dia habis belanja di minimarket di seberang jalan.</p><p>Setibanya di depanku, Rini tidak segera duduk di kursi. Dia memilih duduk pada beton pembatas pantai, menghadap ke laut, sambil membuka bungkus makanan ringan yang dibelinya.</p><p>Dia memanggilku untuk duduk di sampingnya. Katanya dia ingin menceritakan sesuatu. Mungkin sesuatu yang dilihatnya tadi, tepat saat matahari terbenam.</p><p>Sebelum bercerita, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti khawatir terhadap sesuatu. Kemudian, setengah berbisik dia bercerita bahwa saat azan magrib tadi, ada sosok menyeramkan yang dilihatnya di pinggir pantai.</p><p>"Kamu tau kan aku pernah diselamatkan oleh hantu. Hantu itu tadi datang lagi. Padahal sudah bertahun-tahun dia tidak menampakkan diri padaku," kata Rini lirih.</p><p>Aku pernah dengar cerita bahwa dia pernah mengalami kejadian misterius, Rini diselamatkan oleh hantu. Tapi aku tidak tahu persis bagaimana ceritanya.</p><p>"Makhluknya kayak bagaimana, Rin?," tanyaku.</p><p>Rini tidak langsung menjawab. Dia meletakkan telunjuknya di depan bibir, seperti melarangku untuk berbicara. Matanya menatap ke lesehan di sebelah utara kami.</p><p>"Dia datang lagi," bisik Rini padaku.</p><p>Rini lalu mengeluarkan sebatang jarum dari kantong plastik putih yang dibawanya. Aku tidak mengerti apa yang akan dilakukan, dan untuk apa dia membeli jarum itu.</p><p>Dia menggoreskan jarum itu pada jarinya, lalu dia menarik jariku dan menggoresnya. Setelah itu, Rini menempelkan lukanya pada lukaku.</p><p>Jantungku seperti berhenti berdetak saat luka kami bersentuhan. Bukan sentuhannya yang membuat jantungku seperti copot, tapi makhluk mengerikan yang berdiri tidak jauh dari kami.</p><p>Tingginya sekitar tiga meter, dengan telinga lebar dan runcing. Tubuhnya ceking, hingga tulang-tulang pada dadanya tampak menonjol. Rambutnya merah, panjang hingga mencapai lutut.</p><p>Aku tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Yang pasti makhluk itu sangat menyeramkan. Apalagi saat dia menatap kami berdua. Mata makhluk itu seperti hampir keluar dari lubangnya.</p><p><strong>Bersambung...</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Bertemu Arwah Korban Kecelakaan Lalu Lintas]]></title><description><![CDATA[Jantungku semakin kencang berdetak saat mendekati kedua orang itu. Aku menyalakan senter pada ponselku, dan menyorot keduanya. ]]></description><link>http://cermis.id/bertemu-arwah-korban-kecelakaan-lalu-lintas/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d1b</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Fri, 15 Nov 2019 17:46:59 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/Ilustrasi-Pixabayyyyy.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote><strong>Sepertinya aku kehabisan bahan untuk menulis cerita seram. Sudah hampir tiga jam aku berpikir untuk menulis, tapi  semua ide seram dan kisah nyata yang pernah kudengar seperti menguap.</strong></blockquote><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/Ilustrasi-Pixabayyyyy.jpg" alt="Bertemu Arwah Korban Kecelakaan Lalu Lintas"><p>Aplikasi notepad pada ponselku sejak tadi kosong. Tidak satu pun huruf terketik hari ini. Tadi aku sempat membayangkan sesuatu yang seram. Aku membayangkan sedang berada di pemakaman yang gelap dan sunyi, tapi entah kenapa, aku berpikir bahwa itu bukan hal yang seram.</p><p>Aku juga mencoba membayangkan sedang berada di salah satu hutan angker di Gunung Arjuna, tapi bayangan itu pun tidak menyeramkan. Satu-satunya hal menyeramkan yang terlintas di pikiranku adalah membayangkan kamu menolak pinanganku.</p><p>Tapi aku segera menepis bayangan itu, karena selain sangat menyeramkan, cerita tentang itu pun tidak mungkin kutulis.</p><p>Akhirnya aku memilih untuk tetap baring-baring di kasur ini, sambil membuka-buka chat atau obrolan di beberapa grup Whatsapp. Mudah-mudahan ada obrolan yang mampu memberiku ide untuk menulis cerita seram.</p><p>Suara air hujan yang jatuh di atap seng kamar kosku terdengar berirama, seperti beberapa orang yang sengaja memukulnya secara bersamaan.</p><p>Sesekali kilat menyambar, kemudian disambung dengan suara guntur yang menggelegar, menyamarkan suara guyuran hujan pada atap kamarku.</p><p>Perutku mulai lapar, tapi aku enggan keluar untuk membeli seporsi nasi rames. Aku lebih memilih sedikit menahan lapar daripada menembus derasnya hujan.</p><p>Setengah jam berlalu, aku mencoba melihat ke luar. Langit masih tampak jingga kemerahan. Sepertinya hujan kali ini akan lama. Sementara cacing-cacing di perutku semakin kencang menggeliat.</p><p>Akhirnya aku memutuskan untuk memesan makanan melalui aplikasi ojek online. Tapi beberapa kali pesananku ditolak. Mungkin para pengemudinya juga enggan keluar di tengah hujan sederas ini.</p><p>Aku mengambil jaket yang tergantung di dinding dan menyambar kunci motor di atas meja. Setelah mengunci pintu kamar, aku menuju tempat sepeda motorku terparkir.</p><p>Tapi, angin malam yang dingin dipadu dengan percikan air hujan, seperti membuat semangatku mengkerut. Padahal helem merah kesayanganku sudah nangkring di kepala. Aku mengurungkan niatku untuk keluar mencari makan malam.</p><p>Suasana malam ini seperti berbeda dengan malam-malam lain. Dinginnya menusuk hingga ke tulang, padahal jaket yang kukenakan cukup tebal. Jarum jam pada  arlojiku juga masih menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit.</p><p>Aku kembali ke kamar, menyimpan kunci sepeda motor dan jaket, lalu naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku.</p><p>Tiba-tiba aku teringat, bahwa aku masih menyimpan dua bungkus mie instan dan sebutir telur di laci meja. Biasanya aku sarapan sebungkus mie instan dan telur rebus sebelum berangkat kerja.</p><p>"Lumayanlah untuk mengganjal perut sambil menunggu hujan reda," pikirku sambil mengambil mie instan dan telur itu.</p><p>Seperti biasanya, aku menyiapkan panci dan piring untuk tempat makananku nanti. Sebetulnya aku cukup beruntung mendapatkan tempat kos seperti ini. Pemilik kos menyiapkan dapur dan peralatan masak. Semuanya bebas digunakan oleh anak kos.</p><p>Bukan hanya menyiapkan peralatan memasak. Asisten rumah tangga pemilik kos juga bertugas mencuci alat-alat masak itu, kecuali piring masing-masing anak kos.</p><p>Aku merasa sedikit lebih hangat saat berada di dapur. Hawa panas dari kompor gas cukup mampu mengusir dingin.</p><p>Setelah selesai memasak dan menaruh panci di tempat piring kotor, aku membawa mangkuk berisi mie instan panas itu ke kamarku.</p><p>Tapi saat akan keluar dari dapur, aku tersentak. Toni, penghuni kos di samping kamarku tiba-tiba berdiri di depan pintu dapur. Padahal aku ingat sekali, tadi tidak ada siapa pun di situ.</p><p>Toni menatapku tanpa berkedip. Wajahnya pucat. Rambut Toni terlihat basah. Mungkin dia kehujanan.</p><p>"Anjiiir... Kamu ngagetin aku aja, Ton. Kapan datang?," tanyaku.</p><p>Setahuku Toni sedang cuti dan pulang kampung sejak tiga hari lalu. Kampungnya tidak terlalu jauh dari kota ini, hanya sekitar tiga jam perjalanan jika menggunakan sepeda motor.</p><p>Saat berangkat, Toni mengatakan dia akan menjemput adiknya, dan akan membawanya ke sini, karena adiknya berencana kuliah di kota ini.</p><p>Toni baru saja akan menjawab pertanyaanku saat ponselku berdering. Mulutnya sudah terbuka, tapi dikatupkannya kembali.</p><p>Aku meletakkan mangkuk mie di meja depan dapur, lalu mengambil ponsel dari kantong celana. Rupanya alarm ponselku yang berbunyi. Aku lupa mematikannya tadi.</p><p>Tadinya aku memasang alarm karena berniat keluar malam ini. Tapi hujan yang tadi cukup deras, membuatku membatalkan rencana untuk pergi. Padahal hari ini belum satu pun berita yang kukirim ke kantor.</p><p>"Bro, tadi ada lakalantas (kecelakaan lalu lintas), waktu aku menuju ke sini. Korbannya dua orang, semuanya meninggal di tempat," kata Toni setelah aku memasukkan kembali ponselku.</p><p>Perkataan Toni membuatku batal mengambil mangkuk mie di atas meja. Maklum saja, profesiku sebagai jurnalis mengharuskan aku mengirim berita setiap hari. Sementara hari ini tidak ada satu pun yang kukirim.</p><p>"Lokasinya di mana, Ton? Kejadiannya jam berapa?," tanyaku.</p><p>Toni menjelaskan kronologis kecelakaan itu. Kata Toni, korbannya adalah dua pengendara sepeda motor yang berboncengan. Mereka ditabrak oleh truk yang melaju kencang dari arah yang sama.</p><p>"Lokasinya nggak jauh dari terminal. Kalau dari arah sini, pas di tikungan sebelum jembatan. Truknya masuk ke jalur lambat, jadi korbannya terpental ke dalam sawah dan mati di tempat," Toni merinci lokasi kecelakaan.</p><p>Kata Toni, pengemudi truk melarikan diri bersama truknya, setelah mengetahui bahwa korbannya meninggal dunia.</p><p>"Oke Ton, entar kalau hujan reda aku langsung ke sana, sekalian cari makan malam. Makasih ya," kataku sambil membawa 'pengganjal perutku' ke dalam kamar.</p><p>Belum cukup dua menit aku berada di kamar, suara hujan di atap kamarku tiba-tiba berhenti. Spontan aku menengok keluar melalui jendela. Ternyata hujan sudah reda.</p><p>Hanya membutuhkan waktu kurang dari tujuh menit untuk menghabiskan mie instanku, dan hanya tiga menit untuk berkemas menuju lokasi kecelakaan.</p><p>Tapi, saat aku tiba di tempat yang dijelaskan oleh Toni, tidak terlihat bekas-bekas adanya kecelakaan. Tidak ada juga orang berkerumun seperti layaknya saat menemukan mayat.</p><p>Aku mencoba menelusuri pesawahan di pinggir ringroad itu. Berharap menemukan sepeda motor dan korban lakalantas yang dikatakan Toni.</p><p>Hampir lima menit aku menyusuri tempat itu, sampai akhirnya aku melihat satu unit sepeda motor tergeletak di parit, di antara pesawahan dan jalanan.</p><p>Sepeda motorku kuarahkan ke tempat itu, lampunya sengaja kusorot ke arah sepeda motor tersebut. Jantungku berdetak kencang, karena sepeda motor itu sangat mirip dengan milik Toni.</p><p>Setelah memarkir sepeda motorku, aku bergegas mendekati sepeda motor di dalam parit. Beberapa meter dari sepeda motor itu, ada dua orang tergeletak. Tapi aku tidak tahu jenis kelaminnya, karena suasana cukup gelap.</p><p>Jantungku semakin kencang berdetak saat mendekati kedua orang itu. Aku menyalakan senter pada ponselku, dan menyorot keduanya. Tubuh dan jaket yang dikenakan sangat mirip dengan milik Toni. Tapi aku tidak berani menyentuh apalagi membalikkan sosok  dengan posisi tengkurap itu.</p><p>Satu-satunya cara yang aman untuk mengetahui identitas kedua korban adalah menelepon polisi. Aku memilih langkah itu, dan menelepon Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres kota ini.</p><p>Tak cukup lima belas menit kemudian, dua unit mobil patroli polisi tiba di lokasi. Dua di antaranya mengenalku, dan meminta keterangan. Sementara rekannya yang lain langsung menuju ke arah dua korban lakalantas.</p><p>Hanya beberapa menit berselang, aku dan dua polisi kenalanku menyusul dua rekannya. Kedua polisi itu sudah selesai memeriksa kondisi korban.</p><p>"Dua-duanya meninggal dunia. Jenis kelaminnya laki-laki. Dugaan sementara ini kasus tabrak lari, karena sepeda motornya hancur," kata salah seorang dari mereka, sambil mengarahkan senter pada kedua pria itu.</p><p>Hampir saja aku pingsan saat cahaya senter menyorot wajah salah satu korban. Pandanganku kabur dan kepalaku terasa berat saat melihatnya. Pria yang meninggal itu adalah Toni.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Terbawa Bus Hantu ke Tengah Hutan (2)]]></title><description><![CDATA[Wajah nenek itu menjadi sangat menakutkan. Rongga matanya menganga tanpa biji mata di dalamnya. Sementara di tangannya, dia memegang dua biji mata.]]></description><link>http://cermis.id/terbawa-bus-hantu-ke-tengah-hutan-2/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d1a</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Thu, 14 Nov 2019 11:25:55 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/bus-sspixabay.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote><strong>"Tolooooong...," teriak Ais sekencang-kencangnya. Tapi tidak seorang pun mendengar teriakannya. Bus itu tetap melaju, mengikuti jalan setapak di tengah hutan. Ais menangis sejadi-jadinya.</strong></blockquote><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/bus-sspixabay.jpg" alt="Terbawa Bus Hantu ke Tengah Hutan (2)"><p>Ais panik. Dia berusaha membuka pintu bus, tapi pintu itu tidak bisa dibuka. Sepertinya pabriknya memproduksi bus itu dengan pintu otomatis. Dia mencoba memukul-mukul kaca jendela bus, tapi percuma. Pukulan tangan Ais yang kecil tak mampu memecahkan kaca setebal lebih dari lima milimeter tersebut.</p><p>Tangis Ais semakin keras. Dia berharap ini semua hanya mimpi buruk. Tapi saat dia mencubit tangannya, Ais merasa sakit. Artinya, ini adalah kenyataan. Ais beristighfar, berdoa pada Tuhan, agar dia diselamatkan.</p><p>Sekilas dia teringat pada Eka, temannya yang tadi akan menjemput di stasiun. Seandainya tadi dia mengikuti saran Eka, pasti saat ini dia sudah istirahat sendirian di kamar penginapan. Mungkin Ais sudah berbaring di kasur empuk dengan laptop di hadapannya, dan cemilan di sampingnya.</p><p>Dia juga membayangkan, seandainya saat ini Eka ada di dalam bus, pasti Ais tidak akan setakut ini. Mungkin Eka akan memeluknya untuk menenangkan. Lalu Ais akan menyandarkan kepalanya di bahu Eka, seperti sepasang kekasih.</p><p>Tapi Ais menepis khayalannya. Dia harus menghadapi kenyataan, bahwa saat ini dia sendirian di dalam bus yang melaju di hutan. Bus yang berjalan tanpa sopir.</p><p>Ais memeriksa ponselnya, berharap agar dia dapat menghubungi Eka, agar Eka bisa mencarinya ke hutan ini, tapi Ais tidak tahu dia berada di hutan mana. Jaringan internet maupun selulernya juga tidak ada. Sinyal pada ponselnya menunjukkan tanda silang.</p><p>Di kejauhan, lamat-lamat dia melihat dua orang berdiri. Sepertinya orang itu akan naik bus yang ditumpanginya. Harapannya kembali muncul. Setidaknya dia tidak sendiri di dalam bus ini.</p><p>Benar saja, bus tanpa sopir ini mengurangi kecepatannya, kemudian menepi ke depan kedua orang itu. Pintu bus secara otomatis bergeser ke kiri dan ke kanan.</p><p>Ais merasa sangat bersyukur, karena salah satu dari penumpang itu adalah perempuan. Keduanya lalu duduk tepat di hadapan Ais.</p><p>Pintu bus kembali tertutup, seiring dengan kembali berjalannya bus tersebut, entah menuju ke mana.</p><p>Suasana di luar bus semakin gelap, hanya lampu bus yang menjadi penerang. Bayangan hitam pepohonan membuat suasana semakin mencekam.</p><p>Ais mencoba membuka pembicaraan dengan kedua penumpang baru itu, tapi Ais ragu, karena sejak naik hingga saat ini, keduanya tidak pernah saling bercakap. Dia kembali membayangkan jika dirinya bersama Eka di dalam bus ini. Pasti mereka akan bercerita dan bercanda, tanpa menghiraukan dua penumpang yang baru naik.</p><p>"Sejujurnya saya berharap ada Kak Eka menemani di sini," ucapnya dalam hati.</p><p>Selama ini Ais berusaha menolak kata hatinya, bahwa dia memiliki perasaan pada Eka, bahwa dia menyimpan rindu yang sangat pada laki-laki tengil itu. Ais selalu membohongi dirinya sendiri, dan mencoba membunuh perasaan itu, meski akhirnya rasa itu justru membuncah, memenuhi rongga dada dan pikirannya.</p><p>Ais kembali mencoba menepis bayangan Eka yang bermain dalam pikirannya, mencoba menghapus senyum Eka yang tidak manis-manis amat tapi seperti tergambar di pelupuk matanya. Saat ini yang harus dilakukan bukan membayangkan Eka, tapi bercakap dengan penumpang di depannya.</p><p>"Mbak, bus ini menuju ke mana ya? Apa memang trayeknya lewat hutan seperti ini?," tanya Ais pada perempuan di depannya.</p><p>Perempuan itu tidak langsung menjawab. Dia menatap Ais dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Matanya sayu tapi tampak sedikit menakutkan. Wajahnya pucat dengan bibir berwarna kehitaman.</p><p>Ais terkejut melihat wajah perempuan itu. Tampak dingin dan tanpa ekspresi. Menurutnya seperti mayat hidup.</p><p>"Bus ini menuju di Pasar Bubrah. Di sana titik akhirnya," jawab perempuan itu lirih.</p><p>Ais tidak mengerti. Baru kali ini dia mendengar ada daerah bernama Pasar Bubrah. Meski tidak begitu lancar berbahasa Jawa, tapi Ais tahu arti bubrah, yakni terhambur atau tidak tertata.</p><p>Tapi dia tidak kembali bertanya. Nyalinya mulai menciut saat melihat wajah dan suara perempuan itu. Apalagi saat dia memperhatikan pria yang bersama perempuan itu.</p><p>Dia seperti tidak memiliki bola mata hitam. Seluruh bola matanya berwarna putih, di sekeliling matanya terlihat lingkaran kehitaman.</p><p>Lagi-lagi Ais teringat pada Eka. Kali ini dia benar-benar berharap Eka ada di sampingnya, memeluknya untuk menenangkan. Ais tidak lagi mencoba menepis perasaannya pada Eka. Dia membiarkan lamunan dan khayalan manis dengan Eka memenuhi rongga kepalanya.</p><p>Tiba-tiba bus itu kembali berhenti. Rupanya ada lagi penumpang yang naik. Kali ini seorang nenek yang membawa bungkusan di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang tongkat.</p><p>Nenek itu mengenakan kacamata hitam. Sesuatu yang menurut Ais sangat tidak lazim. Mengenakan kacamata hitam pada malam hari, apalagi di tengah hutan yang gelap.</p><p>"Mungkin nenek itu buta dan tongkat itu sebagai alat bantunya," duga Ais dalam hati.</p><p>Tapi, jika memang nenek itu buta, keluarganya pasti orang-orang yang tidak memiliki perasaan. Mereka tega membiarkan seorang nenek buta untuk naik bus seorang diri di tengah hutan.</p><p>Ais bergidik saat dia kembali sadar bahwa dirinya berada di dalam bus yang melaju sendiri di tengah hutan. Dia yakin bahwa ada sesuatu yang gaib yang dialaminya. Dia kembali berdoa.</p><p>Nenek itu tertatih saat melangkah di dalam bus. Sepertinya memang dia buta, karena tongkatnya digoyangkan ke kiri dan ke kanan untuk mengetahui jalur yang rata di dalam bus.</p><p>Ais mencoba menolongnya. Dia memegang lengan nenek itu dan mengajaknya duduk di samping Ais. Setelah duduk, nenek itu mengucapkan terimakasih atas bantuan Ais.</p><p>"Sepertinya nenek ini tidak semenakutkan kedua orang di depanku," Ais berucap dalam hati.</p><p>Ais lalu mengajak nenek itu bercakap. Dia menanyakan tujuan nenek itu, dan bertanya apakah nenek itu tidak bisa melihat.</p><p>"Nenek mau ke Pasar Bubrah. Iya, nenek tidak bisa melihat. Makanya nenek pakai tongkat," jawabnya.</p><p>Suara nenek itu datar dan ramah, membuat Ais merasa sedikit lebih tenang. Ais berbesar hati, bahwa nenek ini akan menemani dan membantunya setiba di Pasar Bubrah nanti.</p><p>Tiba-tiba nenek itu bertanya pada Ais. "Nak, apakah kamu mau membantu nenek? Bantu nenek supaya bisa melihat lagi," pintanya pada Ais.</p><p>Ais yang pada dasarnya suka menolong, spontan menjawab bahwa dia bersedia membantu nenek itu. Ais juga bertanya bagaimana caranya dia bisa membantu si nenek agar bisa melihat.</p><p>"Terimakasih sebelumnya, Nak. Kalau begitu, tolong pasangkan bola mata nenek ke tempatnya," ucap si nenek sambil membuka kacamata dan mengeluarkan dua biji mata dari bungkusan di tangan kanannya.</p><p>Wajah nenek itu menjadi sangat menakutkan. Rongga matanya menganga tanpa biji mata di dalamnya. Sementara di tangannya, dia memegang dua biji mata.</p><p>Spontan Ais kembali berteriak. Dia menjerit sekeras-kerasnya. Ais berlari menuju bagian belakang bus, lalu menelungkupkan wajahnya pada kursi bus. Dia sangat ketakutan. Perutnya mual melihat dua biji mata di tangan nenek itu.</p><p><strong>Bersambung</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Terbawa Bus Hantu ke Tengah Hutan (1)]]></title><description><![CDATA[Ais memandang ke luar bus, hanya bayangan pepohonan yang nampak. Bulu kuduknya berdiri. Ais merasa sangat ketakutan, lalu berdiri dan melangkah menuju kursi sopir.]]></description><link>http://cermis.id/terbawa-bus-hantu-ke-tengah-hutan-1/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d19</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Thu, 14 Nov 2019 09:13:36 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/bus-ppppixBY.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote><strong>Nada pesan masuk terdengar dari ponselku yang tergeletak di meja. Aku menduga pesan itu berasal dari Aisah, teman lamaku. Sudah cukup lama aku dan Aisah tidak bertemu. Terakhir sekitar dua atau tiga tahun lalu, saat masih sama-sama bertugas meliput di kantor gubernur.</strong></blockquote><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/bus-ppppixBY.jpg" alt="Terbawa Bus Hantu ke Tengah Hutan (1)"><p>Sejak tiga hari lalu Ais, sapaan akrab Aisah, menghubungiku melalui aplikasi perpesanan instan. Dia berencana membuat artikel tentang kegiatan budaya di kota ini, Jogja.</p><p>Sebagai teman yang lama tinggal di kota ini, aku menawarkan untuk menjemput dan mengantarnya menemui beberapa tokoh budaya di sini, juga lokasi dan kegiatan yang mendukung artikelnya.</p><p>Sebetulnya bagiku Ais bukan sekadar teman. Sejak pertama mengenalnya, aku sudah jatuh hati padanya. Tapi jujur saja, aku sungkan untuk berterus terang padanya. Aku takut dia menjauh dan akhirnya tidak mau mengenalku.</p><p>Aku lebih suka keadaannya seperti saat ini, tanpa status hubungan yang istimewa, tapi aku bisa dekat dengannya kapan pun aku mau. Daripada aku harus menyampaikan perasaanku tapi dia menjauh.</p><p>Tapi, sudahlah, saat ini bukan waktunya untuk menceritakan perasaanku pada Ais, karena dia sudah tiba di Stasiun Tugu.</p><p>Aku menawarkan diri untuk menjemput dan mengantarnya ke penginapan, tapi Ais menolak. Katanya dia ingin mencoba bus trans, sekalian melihat-lihat suasana Jogja dari atas bus.</p><p>"Tapi saya nggak tahu trayek bus. Nanti Ais turunnya di mana?," tanyaku melalui ponsel.</p><p>Jawabannya di luar dugaanku. Ternyata selain cantik, baik dan cerdas, cara berpikir Ais sangat simpel. Nalarnya jalan.</p><p>Kata Ais, bus apa pun yang ditumpanginya, akan berakhir di terminal. Jadi, meski pun nantinya dia salah trayek, dia akan kembali ke terminal dan mencari trayek yang tepat untuk ke Prawirotaman, tempatnya menginap.</p><p>"Kalaupun nanti saya tidak dapat bus yang ke Prawirotaman, saya kan bisa pesan ojek online," ucapnya sambil tertawa.</p><p>Aku ikut tertawa. Bukan karena ucapannya yang lucu, tapi aku menertawai diriku sendiri, yang tidak berpikir sampai ke sana.</p><p>Sebenarnya penawaranku untuk menjemput, bukan hanya untuk memudahkan Ais, tapi agar aku juga bisa lebih cepat bertemu dengannya. Setidaknya dengan melihat wajah dan senyumannya, rinduku yang terpendam dapat sedikit terobati.</p><p>Dengan setengah memaksa, aku kembali memintanya agar mau kujemput. Tapi seperti biasanya, sifat keras kepalanya muncul. Aisah ngotot untuk tetap menumpang bus trans.</p><p>Akhirnya aku mengalah, tapi dengan catatan, dia harus memberitahuku jika sudah ada di dalam bus. Setidaknya menginformasikan nomor trayek bus saat bus tiba di shelter. Dia menyanggupinya.</p><p>Aku bergegas mengenakan celana panjang dan menghidupkan mesin sepeda motorku, lalu meluncur ke terminal, berharap Aisah akan turun di terminal dan aku memboncengkannya menuju penginapan.</p><p>Matahari sore seperti tahu bahwa aku sedang bahagia, sinarnya seolah redup, kalah dengan berbinarnya wajahku. Maklum saja, beberapa kali aku janjian untuk bertemu dengan Ais, tapi selalu batal. Entah karena dia yang sedang sibuk atau aku yang sedang ada kegiatan.</p><p>Sambil bersiul dan sesekali berdendang, di atas sepeda motor aku menyusuri aspal. Semua yang kulewati jadi nampak lebih indah. Bahkan lampu lalu lintas terlihat seperti emoji orang tersenyum.</p><p>Sekitar setengah jam kemudian, aku sudah tiba di Terminal Giwangan. Satu-satunya terminal bus di kota ini. Beberapa bus Trans Jogja melintas di pintu masuk terminal.</p><p>Aku memeriksa ponselku, berharap ada kabar dari Ais. Sepertinya hari ini semesta sedang berpihak kepadaku. Ada pesan dari "La Juma 2", nama kontak Aisah pada ponselku. Aku sengaja memberi nama kontak itu，agar mudah dicari saat aku akan menghubunginya.</p><p>"Kak, saya naik Trans Jogja yang nomor 9A. Kalau salah jalan, nanti saya langsung turun di terminal saja. Ini barusan naik di bus," tulisnya dalam pesan.</p><p>Jujur saja, aku tidak hafal nomor trayek Bus Trans Jogja, karena selama ini aku tidak pernah menggunakan moda transportasi massal tersebut. Biasanya aku menggunakan jasa ojek online, atau mengendarai sepeda motorku.</p><p>Aku mengecek waktu pengiriman pesan dari La Juma 2, di situ tertulis pukul 16.15. Itu berarti sekitar 25 menit yang lalu. Menurut logikaku, paling lama setengah jam ke depan bus itu sudah tiba di terminal ini.</p><p>Aku memperhatikan seluruh bus Trans Jogja yang masuk ke terminal, tapi anehnya tidak satu pun bus bernomor trayek 9A yang kutemui.</p><p>20 menit berlalu, dan tetap saja tidak satu pun bus dengan nomor trayek itu yang tiba. Aku mulai gelisah. Sepertinya ada yang tidak beres dengan trayek tersebut.</p><p>"Pak, Trans Jogja nomor trayek 9A masuk ke sini nggak ya?," tanyaku pada seorang pengemudi bus Trans Jogja yang turun untuk beristirahat.</p><p>"9A atau 6A, Mas? Semua trayek lewat terminal, tapi nomor 9A nggak ada," jelasnya.</p><p>Aku tidak mengerti maksud ucapannya, dan kembali bertanya pada pria berkacamata itu. "Maksudnya nggak ada gimana ya Pak?," tanyaku tak mengerti.</p><p>"Trayek nomor 9A itu nggak ada, Mas. Trayeknya nggak sampai nomor 9. Mungkin Masnya salah lihat," jawabnya lagi, tapi kali ini dengan nada yang sedikit kesal.</p><p>Setelah mengucapkan terimakasih, aku kembali ke tempat dudukku di ruang tunggu. Aku mengecek ulang pesan dari Aisah. Tidak ada satu pun pesan baru darinya.</p><p>Aku membalas pesannya, bertanya posisinya saat ini. Tapi satu tanda centang terlihat di bagian kanan bawah pesanku. Artinya pesanku belum terkirim padanya. Aku menunggu beberapa detik, berharap pesan itu segera terkirim dan dibaca.</p><p>Satu menit berlalu, tanda centang itu tidak bertambah. Aku mencoba berpikir positif, mungkin saja jaringan internet pada ponsel Aisah sedang tidak bagus. Tapi hingga lima menit berlalu, satu tanda centang itu tidak berubah.</p><p>Aku mulai waswas, tapi tetap mencoba berpikir positif, berharap bahwa Aisah hanya kehabisan kuota internet atau ponselnya kehabisan daya dan dia tidak membawa power bank.</p><p>Jam pada ponselku sudah menunjukkan pukul 17.00, tapi bus yang ditumpangi oleh Ais belum juga muncul, dan pesanku pun belum terkirim.</p><p>Sementara, di dalam bus nomor trayek 9A, Ais tertidur. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi. Dia tertidur karena saat naik ke atas bus, seluruh penumpangnya sedang tidur.</p><p>Ais tidak sadar bahwa bus itu berjalan tidak pada jalanan yang lazim. Bus itu melaju di atas tanah berbatu, di tengah hutan. Pohon-pohon besar di kiri dan kanan bus, seperti berjalan ke belakang. Tapi Ais nyenyak tidur karena kelelahan dalam perjalanan.</p><p>Saat dia terbangun, hari sudah senja. Matahari pun entah di mana, karena rimbun dedaunan pohon-pohon hutan hanya memberikan sedikit celah pada sinar mentari untuk mengintip Ais di dalam bus.</p><p>Ais tersentak. Dia hanya sendirian di atas bus. Para penumpang yang tidur saat dia naik, sudah tidak ada di tempatnya masing-masing.</p><p>Ais memandang ke luar bus, hanya bayangan pepohonan yang nampak. Bulu kuduknya berdiri. Ais merasa sangat ketakutan, lalu berdiri dan melangkah menuju kursi sopir.</p><p>Jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak, bus itu jalan sendiri. Tidak ada sopir yang mengemudikannya.</p><p>"Tolooooong...," teriak Ais sekencang-kencangnya. Tapi tidak seorang pun mendengar teriakannya. Bus itu tetap melaju, mengikuti jalan setapak di tengah hutan. Ais menangis sejadi-jadinya.</p><p><strong>Bersambung...</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Pengalaman Tinggal di Rumah Angker Milik Bangsawan Bali (Tamat)]]></title><description><![CDATA[Aning tahu, ada sesuatu yang tak terlihat yang coba menakutinya. Dia berdiri dan melangkah ke pintu toilet. Tapi, belum sempat dia membuka pintu, aroma wangi tercium di seluruh sudut toilet.]]></description><link>http://cermis.id/pengalaman-tinggal-di-rumah-angker-milik-bangsawan-bali-tamat/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d18</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Mon, 11 Nov 2019 17:56:50 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/old-window-163170_960_720.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote><strong>Mulyo kembali masuk ke dalam kamar. Dia tahu ada sesuatu yang aneh dari rumah ini. Mulyo juga tahu bahwa Aning pun merasakan hal yang sama. Tapi Aning tampak terlihat tenang. Tidak ada ekspresi ketakutan dari wajah Aning.</strong></blockquote><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/old-window-163170_960_720.jpg" alt="Pengalaman Tinggal di Rumah Angker Milik Bangsawan Bali (Tamat)"><p>Keduanya saling bertatapan, mereka seperti tahu isi hati masing-masing. Lalu secara bersamaan keduanya saling peluk. Mereka saling menguatkan antara satu dengan lainnya.</p><p>Mulyo mengecup perlahan kening Aning, sambil memintanya untuk bersabar hingga masa kontrak di rumah itu selesai. Aning tersenyum dan memeluk pinggang Mulyo, sambil membisikkan sesuatu.</p><p>"Nggak papa, Mas. Aku nggak takut kok di sini. Cuma si Hari aja yang kadang masih nangis kalau ngeliat ke atas," ucapnya.</p><p>Keduanya melangkah ke tempat tidur. Hari dan kakaknya, Indra, sudah pulas di atas kasur. Mulyo dan Aning pun melaksanakan hak mereka sebagai pasangan suami istri.</p><p>Tapi, baru saja mereka memulai, suara langkah kaki itu kembali terdengar. Mulyo dan Hari mengabaikannya, sampai suara langkah kaki itu hilang sendiri. Tak lama berselang, suara garukan pada jendela kayu di kamar itu juga terdengar. Keduanya tetap tidak peduli, dan melanjutkan kegiatannya.</p><p>Seusai saling memuaskan, Aning berniat untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Dia keluar menuju toilet rumah itu. Tubuhnya hanya berbalut handuk.</p><p>Sekilas dia mendengar suara mirip dengan derit kayu dari arah kursi goyang. Spontan dia menoleh ke arah sumber suara. Kursi goyang itu bergoyang pelan dan statis, seperti ada orang di atasnya. Padahal saat dia melewati kursi itu, kursi tersebut tidak bergerak.</p><p>Aning melanjutkan langkahnya menuju toilet dan membersihkan diri. Api dari lampu minyak yang menjadi penerang tempat itu, sedikit bergoyang seperti tertiup angin. Nyalanya semakin redup saat tiba-tiba angin berdesir cukup kencang di dalam toilet.</p><p>Aning tahu, ada sesuatu yang tak terlihat yang coba menakutinya. Dia berdiri dan melangkah ke pintu toilet. Tapi, belum sempat dia membuka pintu, aroma wangi tercium di seluruh sudut toilet.</p><p>Aning tidak takut. Dia hanya merasa risih karena saat itu cuma berbalut handuk. Dia bergegas membuka pintu toilet dan melangkah keluar. Tapi langkahnya terhenti, karena sesosok nenek berdiri tepat di depan pintu.</p><p>Tatapan nenek itu menyorotnya tajam. Tapi nenek itu tidak berbicara. Bibirnya terkatup rapat. Rambutnya yang putih terurai panjang hingga ke lantai.</p><p>Aning terkejut melihatnya. Tapi dia segera sadar dari keterkejutannya, dan berjalan sedikit membungkuk saat lewat di depan nenek itu.</p><p>"Permisi nek," ucapnya.</p><p>Aning memang perempuan berani. Sejak kecil dia sering melihat makhluk halus. Aning tahu bahwa nenek itu adalah jin atau makhluk halus sejenisnya.</p><p>Nenek itu tak berkedip memandang Aning yang melangkah menuju kamar. Saat melewati kursi goyang, dia melihat seorang kakek duduk bersandar di situ, sambil menggoyangkan kursi. Kakek itu memangku seekor kucing hitam berukuran besar.</p><p>Ekor kucing tersebut cukup panjang, dengan mata berwarna kuning terang. Dia seperti keenakan dielus-elus oleh si kakek yang duduk dengan mata terpejam.</p><p>Aning tidak mempedulikan kakek dan kucing itu. Dia segera masuk ke kamar dan berpakaian.</p><p>Mulyo melihat ada yang aneh dari sikap istrinya. Tidak biasanya Aning berjalan tergesa-gesa seperti itu. "Kenapa Ning? Kok kayak buru-buru gitu?," tanyanya.</p><p>Aning tidak menceritakan yang dilihatnya tadi. Aning tahu bahwa Mulyo tidak bisa melihat makhluk-makhluk gaib. Dia tidak mau Mulyo berpikiran macam-macam dan mengkhawatirkan Aning.</p><p>"Nggak papa, cuma di luar dingin banget," jawab Aning.</p><p>Gantian Mulyo yang keluar kamar dan menuju toilet. Saat melewati kursi goyang, dia melihat kursi itu bergoyang-goyang, tapi tidak ada apa pun di situ. Dia tidak menghentikan langkahnya.</p><p>Saat berada di dalam toilet, dia juga mencium aroma wangi. Tapi tidak ada makhluk apa pun yang dilihatnya. Hanya saja, bulu kuduknya merinding.</p><p>Saat keluar dari toilet, tepat di depan pintu, Mulyo merasa ada sesuatu yang menyentuh wajahnya, tapi seperti tadi, tidak ada satu pun makhluk yang tampak di situ.</p><p>Dia masuk ke dalam kamar, berbaring di samping Aning yang sudah naik ke peraduan terlebih dahulu, di samping Hari dan Indra. Keduanya tidur nyenyak hingga pagi, tanpa menghiraukan suara-suara yang mengganggu dari luar kamar.</p><p>Seperti hari-hari biasanya, bahkan sebelum keluarga ini pindah ke daerah itu, Aning menyiapkan sarapan untuk Mulyo, sambil menyuapi anak-anak mereka.</p><p>Sekira pukul 07.00, Mulyo berangkat kerja. Dia harus pergi sebelum 07.15, karena jam kerjanya dimulai pukul 08.00. Sementara Mulyo harus menggunakan alat transportasi umum.</p><p>Rupanya hantu-hantu penghuni rumah itu tidak hanya beraksi saat malam saja. Seperti siang itu, saat Aning dan dua anaknya sedang makan siang. Tiba-tiba saja piring makan yang diletakkan di meja bergeser sekitar 10 sentimeter.</p><p>Kedua anak Aning melihatnya bergerak. Tapi mereka justru terlihat senang. Hari dan Indra mengira itu perbuatan ibunya. Sehingga setiap kali piring itu bergerak dan berhenti, mereka meminta pada Aning untuk menggerakkannya kembali.</p><p>Aning tidak tahu harus berbuat apa. Dia berpura-pura menggerakkan piring itu dari jauh, agar anak-anaknya senang dan tidak merasa takut.</p><p>Selain kejadian piring yang bergerak sendiri, lukisan orang yang ada di dinding juga kerap bergoyang sendiri atau letaknya menjadi miring. Kakek di kursi goyang, semakin sering memunculkan dirinya bersama si kucing.</p><p>Meski hantu-hantu itu tidak mengganggu dengan penampakan yang menakutkan, tapi Hari masih selalu ketakutan saat masuk ke dalam kamar dan menatap sudut atas ruangan sebelah kanan.</p><p>Selama hampir dua bulan, hantu-hantu itu seperti tidak kenal lelah menampakkan dirinya, menggoyangkan kursi, lukisan, menggaruk-garuk jendela, hingga melangkah dengan sendal diseret.</p><p>Hingga suatu hari pemilik rumah datang untuk menemui Aning dan Mulyo. Dia menanyakan kejadian-kejadian aneh yang dialami oleh keluarga itu sejak menempati rumahnya.</p><p>Mulyo dan Aning menjelaskan semua yang dianggapnya aneh. Tidak satu pun kejadian yang dilewatkan. Aning bahkan bercerita tentang hantu-hantu yang dilihatnya. Cerita itu membuat Mulyo terkejut. Tapi Mulyo tidak banyak bertanya, karena pemilik rumah itu memberi penjelasan.</p><p>Ternyata sejak lama dia tahu bahwa rumah itu ada 'penunggunya', bahkan bukan hanya satu atau dua jenis, tapi cukup banyak. Dia membeberkan penunggu pada masing-masing tempat.</p><p>Katanya, mereka sudah lama sekali tinggal di situ, tetapi pada dasarnya mereka tidak suka mengganggu, hanya saja, mereka sengaja memunculkan diri pada penghuni baru, agar para penghuni baru mengetahui keberadaan mereka di tempat itu.</p><p>"Intinya semacam perkenalan. Jadi mereka ingin mengatakan bahwa mereka itu ada," jelasnya.</p><p>Namun, saat ditanya mengenai 'penunggu' kamar tidur, pemilik rumah mengatakan, di kamar tidur tidak ada 'penunggunya'. Dia justru mengaku heran saat diceritakan tentang ketakutan Hari jika melihat sudut itu.</p><p>Mulyo dan Aning pun mengajak pemilik rumah untuk memeriksa kamar tidur mereka. Setibanya di dalam, pemilik rumah tampak kaget. Wajahnya memucat saat melihat ke sudut yang dimaksud.</p><p>Dia buru-buru keluar, lalu mengatakan bahwa dia tidak tahu mengenai adanya makhluk yang sangat menyeramkan itu. Makhluk itu tidak pernah ada di rumah ini sebelumnya.</p><p>Jawaban pemilik rumah membuat Mulyo dan Aning berpikir. Pemilik rumah bahkan enggan merinci bentuk makhluk yang katanya sangat menyeramkan itu. Bahkan, hingga keluarga Mulyo pindah rumah setelah masa kontraknya selesai, mereka tidak pernah tahu makhluk apa yang sebenarnya menghuni kamar tidur itu.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Pengalaman Tinggal di Rumah Angker Milik Bangsawan Bali (1)]]></title><description><![CDATA["Ning, kamu yang menggaruk jendela dari dalam?," tanyanya pada Aning, istrinya. Tapi Aning mengatakan, suara garukan itu berasal dari luar kamar.]]></description><link>http://cermis.id/pengalaman-tinggal-di-rumah-angker-milik-bangsawan-bali-1/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d17</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Sun, 10 Nov 2019 11:48:14 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/home-3126362_960_720.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<h3 id="rumah-itu-milik-seorang-bangsawan-halamannya-cukup-luas-dengan-semacam-tempat-sesaji-di-tengah-tengah-halaman-di-sisi-kanan-halaman-sebatang-pohon-kamboja-yang-cukup-rindang-berdiri-kokoh-">Rumah itu milik seorang bangsawan. Halamannya cukup luas, dengan semacam tempat sesaji di tengah-tengah halaman. Di sisi kanan halaman, sebatang pohon kamboja yang cukup rindang berdiri kokoh.</h3><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/home-3126362_960_720.jpg" alt="Pengalaman Tinggal di Rumah Angker Milik Bangsawan Bali (1)"><p></p><p>Rumah itu dihuni oleh sepasang suami istri dari luar pulau, Mulyo dan istrinya. Mereka memiliki dua anak laki-laki, masing-masing berusia tiga dan satu tahun.</p><p>Mulyo merupakan seorang pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu organisasi perangkat daerah (OPD) di kabupaten itu. Sementara, istrinya, Aning, adalah ibu rumah tangga yang cukup rajin.</p><p>Mulyo baru enam bulan bertugas di sana. Sebelum pindah bersama keluarganya, Mulyo tinggal di salah satu tempat kos. Saat itu, setiap bulan dia mengunjungi keluarganya di Jogja.</p><p>Pekan lalu Mulyo dan keluarganya mulai menempati rumah tersebut. Keluarga mereka mengontrak rumah dengan harga yang sangat murah.</p><p>Bangunan rumah itu sebetulnya tidak terlalu luas, dengan lukisan wajah pemilik pada dinding ruang utama. Lukisan itu tampak hidup. Dia mengenakan pakaian adat daerah setempat, dengan sorot mata tajam.</p><p>Awalnya Mulyo dan Aning tidak merasa aneh dengan harga murah yang diberikan. Mereka juga tidak merasa aneh dengan kondisi rumah itu, meski jika diperhatikan dengan saksama, rumah itu memang tampak sedikit angker.</p><p>Aroma sisa dupa yang dibakar setiap malam Jumat, menambah kesan magis di rumah itu.</p><p>Malam pertama mereka bermalam di rumah itu, sebetulnya ada kejadian yang aneh. Hanya saja keluarga tersebut tidak memperhatikan.</p><p>Semua bola lampu listrik yang ada di rumah itu padam. Padahal semuanya adalah bola lampu yang baru dibeli. Sehingga mereka hanya menggunakan lampu minyak kecil sebagai sumber penerangan.</p><p>Anak kedua pasangan itu, Hari, tidak berhenti menangis, dan selalu menatap ke sudut atas kamar mereka. Saat pandangannya dialihkan dari sudut itu, Hari diam, tapi akan kembali menangis saat secara tak sengaja dia menoleh ke sudut itu.</p><p>"Kayaknya Hari takut kalau melihat ke sudut itu," ucap Aning pada suaminya, sambil membalik posisi tidur Hari, agar tidak berbalik dan melihat sudut yang dimaksud.</p><p>Suaminya mengangguk sambil memperhatikan sudut yang ditakuti oleh anaknya. Tapi dia tidak melihat atau menemukan apa pun.</p><p>Menjelang tengah malam, Aning mendengar suara langkah kaki di luar kamar. Suaranya begitu jelas, sepertinya dia mengenakan sendal dan sedikit menyeret kakinya saat melangkah.</p><p>Aning membangunkan Mulyo, dan memberitahukan bahwa dia mendengar suara langkah kaki di luar. Mulyo kemudian mengambil parang dari dalam lemarinya, dan berjalan keluar kamar.</p><p>Tapi dia tidak menemukan siapa pun di luar. Hanya suara desir angin malam yang membawa harum bekas pembakaran dupa.</p><p>Bulan di langit bersinar cukup terang, meski bentuknya tidak bulat utuh. Suara burung hantu sesekali terdengar memecah kesunyian.</p><p>Mulyo kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Tapi baru saja dia menyimpan parangnya, suara langkah kaki itu kembali terdengar. Langkahnya seperti mondar mandir di depan kamar.</p><p>Mulyo kembali keluar, dan memperhatikan sekelilingnya, namun sama seperti sebelumnya, tidak ada siapa pun di situ.</p><p>Tiba-tiba matanya menatap pada kursi goyang tua di sudut ruangan, yang masih bergerak maju mundur. Dia mendekati kursi itu, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bekas diduduki. Debunya masih tebal menempel pada sandaran tangan.</p><p>Mulyo kembali ke kamar, dan memberitahukan pada istrinya bahwa tidak ada siapa pun di luar. Namun, lagi-lagi suara langkah kaki di depan kamar kembali terdengar.</p><p>Mulyo dan istrinya hanya saling berpandangan di antara temaram cahaya lampu minyak.</p><p>Keesokan paginya, saat Aning membeli sayur dari pedagang keliling, beberapa tetangganya seperti heran melihatnya keluar dari rumah itu.</p><p>Seorang perempuan muda yang mengenakan daster, bertanya pada Aning, sejak kapan dia mulai menempati rumah itu. Aning menjawab bahwa dia dan keluarganya baru sehari tinggal di situ.</p><p>"Mbak, kita yang orang sini aja takut lho kalau disuruh masuk ke dalam. Mbak nggak pernah mengalami yang aneh-aneh?," tanyanya.</p><p>Aning menjelaskan semua yang dialaminya tadi malam. Mulai dari seluruh lampu rumah yang padam hingga suara langkah kaki di luar kamar.</p><p>Seorang perempuan lain turut nimbrung, dan menjelaskan bahwa rumah itu sudah beberapa kali dihuni oleh pengontrak sebelumnya, tapi rata-rata mereka hanya bertahan semalam saja, kemudian pindah ke tempat lain.</p><p>Kata dia, rumah milik bangsawan tersebut merupakan salah satu yang paling angker di kabupaten itu, dan sejak lama tidak pernah ada lampu yang bisa menyala. Semuanya padam secara tiba-tiba.</p><p>Aning baru menyadari semua keanehan yang dialaminya semalam. Tapi dia tidak ambil pusing. Dia dan keluarganya harus tinggal di daerah itu, dan saat ini kondisinya tidak memungkinkan untuk pindah kontrakan.</p><p>Saat Aning berada di dapur untuk memasak, anaknya Hari yang baru bisa merangkak, menemaninya di dapur. Tapi tiba-tiba Hari tertawa keras, lalu merangkak seperti mengejar sesuatu.</p><p>Hari seperti sedang bermain-main dengan anak lain, padahal di dapur hanya ada dia dan ibunya, Aning. Tapi Aning hanya memperhatikan, tanpa menegur atau bertanya.</p><p>Tak lama berselang, Hari menangis keras, tangannya melambai ke arah pintu dapur, seperti memanggil seseorang. Dia lalu merangkak cepat menuju pintu. Aning mendekati Hari dan menggendongnya.</p><p>Sesudah semua masakan siap, Aning membawanya ke ruang makan. Namun saat melintas di depan lukisan pemilik rumah di ruang tengah, sekilas Aning melihat lukisan itu tersenyum, dan letak lukisan itu miring ke kiri.</p><p>Dia berhenti sesaat untuk memperhatikan. Wajah dalam lukisan itu berekspresi datar, tidak tersenyum. Lalu dia memperbaiki letak lukisan agar tidak miring, kemudian melanjutkan langkahnya ke ruang makan.</p><p>Saat hendak kembali ke dapur, dia kembali melewati lukisan itu. Posisi lukisan itu kembali miring ke kiri. Aning ingat sekali bahwa letak lukisan itu sudah diperbaikinya tadi, saat membawa makanan ke ruang makan.</p><p>Dia kembali memperbaiki letak lukisan pria berkumis tipis itu sebelum melanjutkan langkahnya ke dapur.</p><p>Sore harinya, sepulang Mulyo dari kantor, Aning menceritakan hal-hal yang dialaminya. Sepertinya Mulyo sudah tahu bahwa ada sesuatu dengan rumah itu.</p><p>Mulyo mengeluarkan tiga bola lampu dari kantong plastik hitam yang dibawanya, kemudian mengganti lampu-lampu yang mendadak rusak dan padam.</p><p>Lampu itu menyala saat dia mencoba menekan switch yang ada di dinding. Tapi belum cukup 30 detik, lampu itu tiba-tiba meredup dan padam.</p><p>Menjelang waktu magrib, Mulyo terpaksa membeli minyak tanah di warung dekat rumahnya, sebagai bahan bakar untuk lampu minyak di rumah itu.</p><p>Pemilik warung menyarankan agar Mulyo menyiapkan sesaji dan meletakkannya di halaman rumah, seperti yang dilakukan sebagian besar warga di daerah itu. Mulyo hanya mengiyakan, namun tidak pernah melakukannya.</p><p>Seusai magrib, Mulyo dan Aning sedang di kamar. Keduanya tersentak kaget, karena seperti ada yang menggaruk-garuk jendela kayu di kamar mereka.</p><p>Spontan Mulya membukanya untuk mengetahui siapa yang menggaruk. Tapi di luar tidak ada orang. Setelah jendela itu kembali ditutup, suara garukan itu muncul lagi.</p><p>Mulyo berinisiatif untuk keluar dan melihat langsung siapa yang iseng menggaruk jendela kamarnya. Hasilnya, dia tidak menemukan siapapun di luar, dan suara garukan itu berubah, seperti berasal dari dalam kamar.</p><p>"Ning, kamu yang menggaruk jendela dari dalam?," tanyanya pada Aning, istrinya. Tapi Aning mengatakan, suara garukan itu berasal dari luar kamar.</p><p><strong>Bersambung...</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Istri Saya Seorang Parakang XII]]></title><description><![CDATA[<p><strong>Baca Dulu: <a href="http://cermis.id/istri-saya-seorang-parakang-xi/">Istri Saya Seorang Parakang XI</a></strong></p><p><em>Cermis.id</em>- Cahaya lampu semakin remang. Di sebuah ruang tamu, duduklah satu keluarga. Mereka akhirnya duduk ber-empat. Ada Aru, Mapta, Bajo, Ibu Mapta. Mereka memulai cerita tentang Nenek Male. Aru sesekali memandangi Mapta saat suaminya itu menyeruput teh panas. Ada kegetiran di</p>]]></description><link>http://cermis.id/istri-saya-seorang-parakang-xii/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d16</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Ais Aljumah]]></dc:creator><pubDate>Thu, 07 Nov 2019 17:13:33 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/Bahureksa-Pixabay.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/Bahureksa-Pixabay.jpg" alt="Istri Saya Seorang Parakang XII"><p><strong>Baca Dulu: <a href="http://cermis.id/istri-saya-seorang-parakang-xi/">Istri Saya Seorang Parakang XI</a></strong></p><p><em>Cermis.id</em>- Cahaya lampu semakin remang. Di sebuah ruang tamu, duduklah satu keluarga. Mereka akhirnya duduk ber-empat. Ada Aru, Mapta, Bajo, Ibu Mapta. Mereka memulai cerita tentang Nenek Male. Aru sesekali memandangi Mapta saat suaminya itu menyeruput teh panas. Ada kegetiran di wajahnya, ketakutan, sedih, dan rasa bersalah yang teramat besar. </p><p>Mapta meminta agar tak membahas asal-usul Aru yang seorang parakang. Untuk sementara waktu, mereka ingin beristirahat. Peristiwa kemarin menyita banyak energi dan emosi. Aru hanya menyampaikan pesan dari Nenek Male. Ia membiarkan Mapta membuka kain pemberian Nenek Male. </p><p>"Kata Nenek Male, saya tidak boleh membukannya jika tidak bersama denganmu. Karena kau sudah di sini, mari kita buka bersama," ucapnya masih dengan kecanggungan dan raut wajah tak biasa, ia meletakkan kain tersebut di atas meja, persis di hadapan Mapta. </p><p>" Bagaimana Nenek Male memberikannya?" tanya Mapta. </p><p>"Dia hanya memberikannya dan berpesan harus dibuka bersama, Mapta." </p><p>Percakapan tentang Nenek Male pun dimulai. Hingga saat ini mereka tidak tahu siapa dia sebenarnya, asalnya, dan apakah dia benar-benar manusia. Tidak ada yang mengerti selain mengetahui bahwa Nenek Male mengetahui banyak hal. </p><p>Kain tersebut berisi foto keluarga Aru. Di dalam foto, ada ibu dan bibinya. Usia mereka saat gambar itu diambil kira-kira 23 tahun. </p><p>"ini tante saya yang tinggal di pulau Kalimantan. Dia sering pulang ke Sulawesi Selatan. Setiap kepulangannya ke kampung adalah keberuntungan. Dia sangat kaya, bahkan mungkin dia sendiri tak mampu menghitung kekayaannya. Warga di kampung senang karena bibi selalu bagi-bagi uang" cerita Aru mengenang bibinya. </p><p>"Kapan terakhir kali dia ke kampung mu," tanya Mapta.</p><p>"Tidak lama, sebelum pesta pernikahan kita ia datang. Dia cukup lama saat itu karena dia merasa ingin berbalas budi kepada ibu yang telah meninggal terlebih dahulu. Sehingga katanya dia ingin menjaga saya. Sekarang, dia sudah kembali ke Kalimantan. Dia juga tak punya anak. Anehnya, suami bibi tidak pernah berkunjung ke keluarga bibi karena selalu alasan sibuk kerja. Mereka pengusaha tambang." </p><p>"Pasti ada alasannya Nenek Male memberikan foto itu kepada kalian. Coba periksa lagi apakah masih ada pesan lain di dalam kain itu?" kata Bajo dengan wajah seriusnya persis ketika kita dikejar hantu saat kecil dulu. </p><p>"Tidak ada barang lain, selain sebuah pesan di balik fotonya." Ucap Aru. </p><p>Tidak ada satupun di rumah itu yang mampu mengerti pesan Nenek Male yang menggunakan huruf lontara. Hurufnya bisa dieja tapi bahasa Bugisnya menggunakan bahasa Bugis Kuno. </p><p>Nenek Male mengantarkan Aru, Bajo, dan Mapta pada cerita baru lagi. Namun setidaknya, Aru telah ditemukan. Apakah benar dia seorang parakang atau sebenarnya hanya sekadar korban. Jawabannya akan ditemukan esok hari saat Aru bercerita semuanya. </p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Susah Meninggal Gegara Ilmu Kanuragan]]></title><description><![CDATA[Mata nenek melotot, gerahamnya gemeretak. Jemari keriput nenek yang terkepal juga ikut bergetar. Sekujur tubuhnya bergetar menahan sakit. Tapi tak seorang pun di tempat itu, mengetahui bagian tubuh nenek yang sakit. ]]></description><link>http://cermis.id/susah-meninggal-gegara-ilmu-kanuragan/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d15</guid><category><![CDATA[Mistik]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Thu, 07 Nov 2019 15:48:58 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/asap-pixabay.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote><strong>Mata nenek melotot, gerahamnya gemeretak. Jemari keriput nenek yang terkepal juga ikut bergetar. Sekujur tubuhnya bergetar menahan sakit. Tapi tak seorang pun di tempat itu, mengetahui bagian tubuh nenek yang sakit.</strong></blockquote><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/asap-pixabay.jpg" alt="Susah Meninggal Gegara Ilmu Kanuragan"><p>Abah dan beberapa tetangga, sudah beberapa hari terakhir membacakan Surah Yasin. Mereka berdoa agar nenek disembuhkan, baik itu sembuh dalam artian sebenarnya, maupun sembuh dalam artian nyawanya dicabut.</p><p>Tapi, kondisi nenek tidak berubah. Dia tetap merasa kesakitan tanpa bisa menyebutkan bagian tubuhnya yang sakit. Sesekali nenek bahkan menangis meraung-raung.</p><p>Menurut penjelasan Kakek Bandi, seorang tokoh masyarakat di kampung ini, dulunya nenek merupakan kembang desa. Nenek juga merupakan perempuan yang disegani, karena selain cantik, dia diyakini mempunyai ilmu kanuragan yang cukup tinggi.</p><p>Waktu aku masih kecil, memang beberapa kali nenek pernah pergi dari rumah selama beberapa hari. Kata kakek, nenek pergi bertapa di kaki Gunung Merapi.</p><p>Meski kakek tahu bahwa nenek sering bertapa dan menuntut ilmu kanuragan, kakek tidak pernah melarangnya. Apalagi kakek tahu bahwa ilmu yang dimiliki nenek seringkali digunakan untuk membantu warga desa.</p><p>Kata kakek, pernah ada seorang warga desa yang kesurupan. Sudah beberapa 'orang pintar' yang dimintai tolong untuk mengobati, tapi hasilnya nihil.</p><p>Keluarga dari warga yang kesurupan itu kemudian meminta tolong pada nenek untuk mengobatinya. Tidak cukup setengah jam, setelah nenek meminumkan air putih pada orang yang kesurupan tersebut, orang itu langsung sadar.</p><p>Nenek juga pernah mengobati seorang wanita yang terkena guna-guna. Wanita itu diguna-gunai oleh pemuda yang pernah melamarnya tapi ditolak. Pemuda itu lalu meminta bantuan dukun, untuk membuat perempuan idamannya sakit keras.</p><p>Saat itu, kepala wanita itu menjadi lembek seperti lembeknya kue lapis. Seluruh tubuhnya pun lemas, sehingga dia tidak bisa berdiri, bahkan untuk duduk sekali pun.</p><p>Sebenarnya keluarga si perempuan sudah mencurigai bahwa pemuda itu yang mengirimkan guna-guna. Tapi, mereka tidak bisa membuktikannya. Dukun-dukun yang dipanggil untuk mengobati pun tidak bisa menjelaskan siapa pengirim guna-guna itu.</p><p>Nenek hanya butuh waktu kurang dari setengah hari untuk mengobati wanita itu. Nenek tidak menanyakan pada jin dalam raga wanita itu, tentang orang yang menyuruhnya. Nenek hanya memerintahkan pada jin tersebut, untuk kembali pada penyuruhnya.</p><p>Beberapa hari kemudian, tersebar kabar bahwa pemuda yang pernah ditolak oleh keluarga wanita itu, mengalami penyakit yang sama dengan yang diderita perempuan itu sebelumnya.</p><p>Saat keluarga pemuda itu meminta pertolongan pada nenek, nenek hanya menyuruh agar pemuda itu meminta maaf pada orang yang diguna-gunai olehnya.</p><p>Keluarga pemuda itu kemudian mendatangi wanita yang menolak pemuda itu, untuk meminta maaf. Sore harinya, setelah mereka meminta maaf, pemuda itu pun sembuh.</p><p>Itu sebagian kisah masa lalu nenek, yang sering menuntut ilmu kanuragan untuk membantu orang lain.</p><p>Kakek Bandi menduga, sakit yang dirasakan oleh nenek ada hubungannya dengan kebiasaan nenek semasa muda. Atau ada hubungannya dengan ilmu kanuragan yang dimiliki nenek selama ini.</p><p>Hanya saja Kakek Bandi tidak tahu apa yang harus diperbuat. Dia hanya menjelaskan bahwa beberapa puluh tahun sebelumnya, juga ada warga yang mengalami hal seperti ini.</p><p>"Waktu itu Nenek Darmi inilah yang menolongnya. Nenek Darmi mengeluarkan ilmu yang dimiliki orang itu. Setelah ilmunya ditarik, orang itu langsung meninggal," jelasnya di hadapan warga.</p><p>Kakek pun tidak mengetahui bagaimana caranya membantu nenek, karena kakek sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan.</p><p>Aku merasa sangat kasihan melihat nenek tersiksa di penghujung usianya. Tapi aku juga tidak tahu apa yang bisa kuperbuat. Aku cuma bisa ikut mendoakan sambil sesekali menggenggam jemarinya, mencoba memberinya kekuatan.</p><p>Angin malam bertiup cukup dingin. Sebagian warga yang tadi datang untuk membacakan Surah Yasin dan mendoakan nenek, sudah pulang.</p><p>Tinggal aku, Kakek Bandi, kakek, dan bapak yang ada di sini. Kami berembuk dan mencoba mencari cara untuk membantu nenek.</p><p>Kakek Bandi menyarankan agar kami mencoba menghubungi paranormal. Dia merekomendasikan paranormal yang tinggal di kecamatan sebelah. Menurutnya paranormal itu cukup hebat dan terkenal.</p><p>Bapak dan kakek serentak menoleh ke arahku. Sepertinya beliau berdua meminta persetujuanku, karena selama ini aku adalah orang yang cukup keras menentang nenek dan ilmunya. Aku adalah orang yang tidak mau berurusan dengan paranormal dan hal gaib.</p><p>Aku mengangguk tanda setuju. Kemudian aku meminta pada mereka semua, agar menunggu hingga pagi tiba, meski sebetulnya kami sudah sangat tidak tega melihat kondisi nenek.</p><p>Setelah disepakati bahwa paranormal itu akan dipanggil pada keesokan paginya, Kakek Bandi pun berpamitan dan pulang. Tinggal kami bertiga duduk di samping tempat tidur nenek.</p><p>Aku mendengarnya mengerang tidak jelas. Sebagian tubuhnya kembali bergetar hebat. Tapi aku tidak berhenti membacakan Surah Yasin untuk nenek. Hingga akhirnya aku merasa lelah, dan tertidur di samping tempat tidur nenek.</p><p>Keesokan paginya, seusai salat Subuh, aku dan bapak sudah siap berangkat menuju rumah paranormal yang dimaksud Kakek Bandi.</p><p>Kami sama-sama mengenakan jaket tebal. Suasana pagi ini benar-benar dingin. Minyak kelapa yang ada di dapur pun sampai membeku dibuatnya.</p><p>Sepanjang perjalanan, aku mendengarkan bapak bersenandung lirih di belakangku. Lagunya tidak begitu jelas, tapi sebagian syairnya mengandung bacaan salawat. Aku tidak tahu, apakah itu kebiasaan bapak jika dia diboncengkan.</p><p>Matahari sudah cukup tinggi saat kami tiba di daerah itu. Tapi dedaunan di daerah itu masih basah akibat embun pagi.</p><p>Benar kata Kakek Bandi, paranormal itu cukup terkenal di daerah tersebut. Itu kami buktikan saat menanyakan alamat Ki Sabdo, paranormal itu, pada warga yang kami temui.</p><p>Rumah Ki Sabdo cukup besar, warnanya hijau muda. Halamannya dihiasai dengan patung kerbau berwarna hitam, dengan seorang bocah penggembala duduk di atasnya.</p><p>Setelah beberapa kali mengetuk pintu rumah, Ki Sabdo pun muncul. Ki Sabdo mengenakan sarung kotak-kotak dengan surjan (baju adat Jawa Tengah) yang tidak terkancing. Di dalamnya, ada kaus oblong berwarna putih.</p><p>Bapak menjelaskan tujuannya menemui Ki Sabdo, dan memintanya agar berkenan datang untuk mengobati nenek.</p><p>"Saya mohon bantuannya, Ki Sabdo. Kasihan ibu saya, sudah sepekan lebih kondisinya begitu," ucap bapak.</p><p>Ki Sabdo menyanggupi untuk datang ke rumah. Rencananya siang ini, sebelum zuhur, dia sudah ada di rumah. Kami pun berpamitan, dan akan menunggu Ki Sabdo di rumah.</p><p>Seperti yang dijanjikan, Ki Sabdo tiba di rumah sebelum zuhur. Saat melihat kondisi nenek, dia terlihat sangat paham apa yang harus dilakukan.</p><p>Ki Sabdo mengeluarkan beberapa uba rampe atau perlengkapannya, termasuk satu pedupaan kecil bersama kemenyan dan dupa batang. Lalu dia membakarnya di bawah tempat tidur nenek.</p><p>Dia merapalkan mantera, kemudian meletakkan telapak tangannya di atas kepala nenek. Wajah Ki Sabdo tampak tegang. Perlahan keringat dingin muncul pada dahinya. Tangannya bergetar, seolah sedang baku tarik sesuatu dengan orang lain. Lalu, dia menghentikan  tarikannya, dan duduk bersila dengan nafas terengah.</p><p>Dia mengulang hal itu hingga beberapa kali. Tapi lagi-lagi dia terduduk seperti kehabisan tenaga.</p><p>Ki Sabdo mengeluarkan sebilah keris dari dalam tasnya. Lalu memegangnya sambil komat-kamit di samping kepala nenek. Keris itu bergetar, kemudian tercium bau yang sangat wangi, yang entah datang dari mana.</p><p>Dia mendekatkan keris itu ke kepala nenek dan kembali melakukan gerakan menarik. Keris itu bergoyang ke kiri dan ke kanan, sementara tangan Ki Sabdo seperti mengikuti gerakan keris tersebut.</p><p>Tiba-tiba Ki Sabdo terpental bersama keris itu. Kali ini keringatnya benar-benar bercucuran.</p><p>"Nenek ini punya semacam susuk di tubuhnya, tapi saya tidak tahu di bagian mana. Jin penjaga susuk itu sangat kuat. Saya tidak mampu mengeluarkannya," kata Ki Sabdo menyerah.</p><p>Ki Sabdo enggan melanjutkan usahanya, karena menurut dia, itu akan sia-sia. Kata dia, tidak banyak orang yang memiliki ilmu kanuragan seperti yang dimiliki nenek. Kemudian dia meminta maaf sebelum pulang.</p><p>Aku bersama bapak dan kakek tidak menahannya pulang, karena kami yakin bahwa usaha Ki Sabdo akan sia-sia.</p><p>Tiba-tiba aku teringat pada mantan guruku, Pak Umar. Pak Umar kerap dimintai tolong untuk merukyah orang yang mengalami gangguan jin.</p><p>Pak Umar tinggal tidak jauh dari desaku. Sejak pensiun, dia fokus untuk merukyah dan berdakwah. Dia melakukannya secara ikhlas, tanpa meminta bayaran sepeser pun pada warga yang ditolongnya.</p><p>Aku segera meneleponnya dan meminta kesediaannya untuk mengobati nenek. Pak Umar menyanggupi permintaanku. Tapi dia baru bisa datang setelah Ashar, karena sepeda motornya dipakai oleh istrinya.</p><p>Aku tidak kehilangan akal, dan bergegas menuju rumahnya untuk menjemput Pak Umar.</p><p>Setengah jam kemudian, aku sudah kembali berada di rumah bersama Pak Umar.</p><p>"Iya, benar yang tadi kamu sampaikan. Nenek ini dalam gangguan jin, karena dia menggunakan susuk di dalam tubuhnya," kata Pak Umar.</p><p>Pak Umar meminta izin untuk mengambil air wudhu. Setelah berwudhu, dia kembali ke kamar nenek, lalu membacakan ayat-ayat rukyah.</p><p>Nenek tampak tidak senang mendengar suara Pak Umar melantunkan ayat-ayat itu. Matanya menatap liar pada Pak Umar. Tatapan itu seperti bukan tatapan nenek.</p><p>Lalu nenek berteriak melengking sambil meronta-ronta. Kepalanya dibentur-benturkan pada tempat tidur, sambil digeleng-gelengkan cepat.</p><p>Tak lama sesudahnya, nenek terdiam, dan muntah. Dia memuntahkan sebatang ranting kecil dari mulutnya, hampir bersamaan dengan keluarnya sebatang emas berukuran kecil dari mulut nenek, serta seekor ular kecil berwarna hitam.</p><p>Beberapa menit setelah barang-barang itu dimuntahkan oleh nenek, nafasnya tiba-tiba seperti orang mendengkur. Lalu nenek terdiam tanpa sempat mengucapkan apapun. Nenek pun meninggal setelahnya.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Makhluk Jadi-jadian Pemakan Isi Perut Bayi (Tamat)]]></title><description><![CDATA[Tangan nenek itu menggengam kepala istri Dadang, dengan isi perut yang bergantungan di bawah leher.]]></description><link>http://cermis.id/makhluk-jadi-jadian-pemakan-isi-perut-bayi-tamat/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d14</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Mon, 04 Nov 2019 12:56:24 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/woman-pixabay.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote><strong>Hasan semakin paham kapan kejadian itu tidak pergi mencari mangsa, yaitu setiap Selasa malam. Artinya hari ini istri Dadang akan keluar mencari mangsa.</strong></blockquote><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/woman-pixabay.jpg" alt="Makhluk Jadi-jadian Pemakan Isi Perut Bayi (Tamat)"><p>Hasan pun berpamitan pada Dadang, tapi dia sengaja membuat janji untuk bertemu pada malam harinya. Hasan akan membawa mesin pompa air milik pamannya, yang kebetulan memang sudah rusak.</p><p>Dia sudah menyusun rencana untuk membongkar kelakuan istri Dadang. Tapi sebelum menangkap basah perempuan jejadian itu, dia akan menjelaskan pada Dadang mengenai risiko yang dihadapinya, jika terus beristrikan perempuan itu.</p><p>Malamnya, tepat seusai salat Magrib, Hasan berangkat menuju rumah Dadang. Dia membungkus mesin pompa air milik pamannya menggunakan karung.</p><p>Langit di atasnya terlihat memerah, sepertinya hujan akan turun malam ini. Tapi Hasan sudah menyiapkan jas hujan sebagai langkah antisipasi.</p><p>Suara katak di pesawahan bersahutan, seolah memanggil hujan agar segera turun. Deru knalpot sepeda motor tua milik pamannya, membuat katak-katak yang ada terdiam. Mungkin mereka terkejut.</p><p>Setibanya di rumah Dadang, Hasan langsung menyerahkan mesin pompa airnya  Kebetulan Dadang masih ada di teras rumahnya, tempat dia membuka reparasi dinamo.</p><p>Jemari Dadang dengan cekatan membuka setiap bagian dari mesin pompa air itu. Mulai dari membuka empat baut yang mengancing penutup impeller, lalu melepaskan impeller,  membuka seal atau pelapis agar air tidak merembes ke dinamo, hingga melepaskan as atau poros pompa.</p><p>Kemudian dia mengambil voltmeter dan memeriksa jalur dinamo. Ternyata memang dinamo mesin air itu sudah hangus. Mungkin akibat pemakaian yang terlalu lama.</p><p>Dadang mengambil tang dan pemotong kawat, lalu memotong kawat dinamo, agar mudah dikeluarkan dari cangkangnya.</p><p>"Mas, saya gulung kawat buat dinamonya besok pagi aja ya. Kalau semua lancar, lusa udah bisa diambil. Ongkosnya Rp200 ribu," ucapnya.</p><p>Hasan menyetujui harga yang disebutkan oleh Dadang, dan langsung membayarnya.</p><p>Setelah membereskan peralatan dan mesin pompa air milik Hasan, Dadang mengajak Hasan untuk duduk-duduk di tempat itu sambil mengobrol.</p><p>Tidak lama kemudian, Dadang masuk ke dalam rumah, lalu kembali keluar setelah beberapa menit di dalam. Dia membawa dua gelas kopi hitam. Dalam hati, Hasan menebak bahwa Dadang menyeduh sendiri kopi itu.</p><p>"Kok rasa kopinya beda dengan yang tadi siang, Mas?," tanya Hasan memancing.</p><p>Dugaannya tepat. Dadang mengatakan, kopi itu hasil seduhannya sendiri. Sedangkan kopi tadi siang adalah seduhan istrinya, yang saat ini sudah ada di dalam kamar untuk menjaga neneknya.</p><p>Perlahan dan dengan sangat hati-hati, Hasan menjelaskan tentang adanya perempuan yang menjalankan ilmu hitam, dan memakan isi perut bayi sebagai tumbalnya.</p><p>Jejadian itulah yang memakan isi perut bayi Dadang. Jejadian itu pula yang hampir setiap malam mendatangi Lastri, mantan istri Dadang.</p><p>Yang diceritakan oleh Lastri selama ini, kata Hasan, bukanlah halusinasi, tetapi kenyataan. Apalagi Hasan pernah melihatnya langsung.</p><p>"Perempuan itu akan menjadi jejadian saat malam. Dia akan meninggalkan tubuhnya di satu tempat, dan akan kembali sebelum subuh," ucap Hasan.</p><p>Dadang terlihat tidak senang mendengar cerita Hasan. Dia merasa tersinggung karena seolah Hasan menuduh istrinya adalah perempuan penganut ilmu hitam itu.</p><p>Hasan melanjutkan ceritanya, dan mengatakan tidak menuduh siapapun. Tapi, dia menanyakan beberapa hal pada Dadang, tentang kebiasaan istrinya.</p><p>Dadang semakin geram. Emosinya memuncak. Hampir saja dia memukul Hasan. Tapi, Hasan mencoba menenangkannya. Sambil menyarankan agar Dadang mencoba melihat ke dalam kamar, untuk membuktikan bahwa istrinya bukanlah jejadian itu.</p><p>"Baiklah, aku akan mengajaknya keluar kamar dan duduk di sini," ucap Dadang yakin.</p><p>Dia kembali masuk ke dalam rumah. Dari luar terdengar suara Dadang memanggil nama istrinya, dan mengetuk pintu. Tapi, setelah beberapa menit memanggil dan mengetuk pintu, istrinya tidak juga keluar.</p><p>Pintu kamar itu terkunci dari dalam. Dadang mencoba mengintip melalui lubang kunci, tapi kamar itu gelap. Hanya ada cahaya temaram, sepertinya berasal dari semacam lampu minyak. Tidak ada anak kunci dalam lubang itu.</p><p>Dadang bergegas menuju ke ruang tengah rumahnya, tempat anak kunci cadangan digantung pada paku di tembok. Lalu memilih anak kunci untuk kamar itu.</p><p>Dengan jantung yang berdebar sedikit lebih kencang, Dadang memasukkan anak kunci itu pada lubangnya. Dia memutarnya perlahan. Kemudian membuka pintu itu.</p><p>Dadang tersentak melihat isi dalam kamar. Meski cahaya lampu minyak di atas meja tidak begitu terang, Dadang bisa memastikan bahwa tubuh istrinya yang sedang duduk bersila. Tapi, sosok itu tanpa kepala.</p><p>Dengan tubuh gemetar, Dadang berlari keluar, dan mengatakan yang dilihatnya pada Hasan. Hasan sudah menebak apa yang dilihat oleh Dadang. Dia mengikuti Dadang dari belakang, dan masuk ke dalam kamar itu.</p><p>Dadang menyalakan lampu kamar, agar bisa melihat jelas kondisi kamar. Tidak ada nenek-nenek seperti yang diceritakan oleh Dadang. Hanya tubuh istri Dadang duduk bersila tanpa kepala.</p><p>Hasan menenangkan Dadang yang tampak panik dan syok. Dia kembali menjelaskan tentang perempuan jejadian. Lalu menyarankan agar Dadang menggeser tubuh istrinya beberapa sentimeter.</p><p>"Meski hanya bergeser beberapa sentimeter, jejadian itu tidak bisa kembali ke tubuhnya. Jika sampai Subuh dia tidak kembali ke tubuhnya, dia akan mati, dan kepala itu akan dipasang kembali oleh jin yang disembahnya," Hasan menjelaskan.</p><p>Sepertinya Dadang mulai bisa memahami penjelasan Hasan, termasuk risiko yang dihadapinya jika terus beristrikan jejadian itu.</p><p>Dia mengikuti saran Hasan. Dadang mendorong tubuh istrinya sejauh beberapa sentimeter dari tempat duduk awalnya. Dadang ikhlas jika nantinya istrinya harus meninggal gegara tidak bisa kembali ke tubuhnya.</p><p>Keduanya menunggu hingga menjelang subuh. Tiba-tiba Hasan mencium bau anyir, persis seperti yang diciumnya saat berada di rumah Lastri. Dia tahu bahwa sebentar lagi istri Dadang datang.</p><p>Benar saja, tak cukup dua menit, kepala perempuan itu datang dan melayang-layang di dalam kamar. Jejadian itu terlihat sangat marah melihat Dadang dan Hasan di kamar itu.</p><p>Dia mencoba menyerang Hasan, tapi Hasan mengelak, lalu membacakannya beberapa ayat suci, yang membuat jejadian itu semakin marah. Tapi dia melayang keluar, menjauh dari rumah itu.</p><p>Dadang tidak melihat apapun. Dia heran saat Hasan menunduk seperti mengelak, dan membaca ayat-ayat suci.</p><p>"Tadi perempuan itu sudah datang, tapi kamu tidak melihatnya. Dia marah karena melihat tubuhnya berpindah tempat," Hasan menjelaskan.</p><p>Suara azan Subuh mulai terdengar dari beberapa masjid serta surau di daerah itu. Itu berarti ajal jejadian tersebut akan segera tiba.</p><p>Tepat setelah azan subuh berhenti. Tiba-tiba datang seorang nenek bertubuh bungkuk. Seluruh rambutnya berwarna putih. Nenek bungkuk itu menatap marah pada Hasan dan Dadang.</p><p>Tangan nenek itu menggengam kepala istri Dadang, dengan isi perut yang bergantungan di bawah leher.</p><p>Dadang berbisik pada Hasan, bahwa nenek itu adalah nenek dari istrinya, yang diperkenalkan saat awal menikah.</p><p>Nenek tersebut melangkah perlahan menuju tubuh istri Dadang, kemudian memasukkan usus, jantung dan isi perut lainnya melalui leher. Lalu dia meniup bagian leher yang menyambungkan tubuh dengan kepala.</p><p>Asap tipis berwarna putih mengepul dari leher itu, dan tiba-tiba saja kedua bagian tubuh istri Dadang kembali menyatu, bersamaan dengan menghilangnya nenek bungkuk tersebut.</p><p>"Nenek itu bukan manusia. Dia adalah jin yang disembah oleh istrimu. Wujud aslinya pun bukan nenek-nenek, tapi genderuwo jantan," jelas Hasan pada Dadang.</p><p>Saat pagi tiba, Dadang memberitahukan perihan kematian istrinya pada warga. Tapi dia tidak menjelaskan penyebab kematian perempuan itu. Rahasia itu hanya diketahui oleh dirinya dan Hasan, teman barunya.</p><p><strong>Tamat</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Makhluk Jadi-jadian Pemakan Isi Perut Bayi (2)]]></title><description><![CDATA[Bibir Hasan komat-kamit membaca doa untuk mengusir hantu kepala perempuan itu. Membuat hantu itu marah dan berteriak-teriak mengerikan. ]]></description><link>http://cermis.id/hantu-perempuan-pemakan-isi-perut/</link><guid isPermaLink="false">5efc813b5623940156cb3d13</guid><category><![CDATA[Ifrit]]></category><dc:creator><![CDATA[Kurniawan Campalagian]]></dc:creator><pubDate>Fri, 01 Nov 2019 17:02:31 GMT</pubDate><media:content url="http://cermis.id/content/images/2019/11/seram-pixabay.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote><strong>Bibir Hasan komat-kamit membaca doa untuk mengusir makhluk berkepala perempuan itu. Membuatnya marah dan berteriak-teriak mengerikan. Dia terbang mengelilingi ruangan itu, sambil sesekali menukik ke arah Hasan.</strong></blockquote><img src="http://cermis.id/content/images/2019/11/seram-pixabay.jpg" alt="Makhluk Jadi-jadian Pemakan Isi Perut Bayi (2)"><p>Tapi, Pak Narto dan istrinya tidak melihat dan mendengar teriakan makhluk itu. Keduanya tampak bingung bercampur takut, saat melihat Hasan sesekali merunduk menghindari serangan kepala perempuan tersebut.</p><p>Hingga akhirnya sosok itu terbang keluar ruangan sambil terus berteriak kesakitan, lalu hilang ditelan gelapnya malam.</p><p>Lastri tampak terlihat lebih tenang setelah makhluk itu pergi. Dia masih mengenali Hasan sebagai teman masa kecilnya. Lastri menegur Hasan dengan suara lirih. Dia merasa malu karena Hasan melihat kondisinya yang dipasung.</p><p>Hasan mendekati Lastri, Pak Narto dan istrinya pun ikut dari belakang. Hasan tampak merasa iba melihat kondisi Lastri. Lalu dia menoleh ke arah Pak Narto dan istrinya, lalu menjelaskan bahwa yang dilihat oleh Lastri adalah nyata.</p><p>Sosok berkepala perempuan yang selalu disebut-sebut oleh Lastri setiap senja dan malam, memang ada. Tapi, sosok itu sesungguhnya bukan hantu. Kepala perempuan yang melayang itu sebenarnya adalah manusia, tapi dia sedang mengamalkan ilmu hitam yang dipelajarinya.</p><p>Biasanya ilmu semacam itu dipelajari agar pelakunya menjadi awet muda, sekaligus sebagai pesugihan. Mereka memakan anak bayi yang belum berusia 40 hari sebagai salah satu syaratnya.</p><p>Jika dia memiliki anak perempuan, maka nantinya anak perempuan itu akan dikorbankan untuk jin yang bekerja sama dengan pelaku. Anak perempuan itu bisa saja dibunuh, atau dijadikan pemuas nafsu jin yang bersangkutan.</p><p>Jika dijadikan pemuas nafsu, maka anak itu tidak akan pernah keluar rumah seumur hidup. Dia akan terus di kamarnya, dan makanannya adalah daging mentah. Perlahan dia akan menjadi manusia setengah jin.</p><p>Setelah mengorbankan anak perempuannya, baik itu dibunuh atau dijadikan budak seks, orang yang menuntut ilmu hitam itu tidak lagi harus mencari tumbal anak bayi.</p><p>Hanya saja, biasanya pelaku sudah ketagihan dengan rasa isi perut dan darah bayi, sehingga meski tidak lagi wajib memberikan tumbal, dia akan terus mencari dan memakan isi perut bayi.</p><p>Selain itu, dengan memakan isi perut bayi, ilmunya akan semakin tinggi, dan dia akan semakin terlihat awet muda serta menggairahkan.</p><p>Tapi, sebelum pelaku ilmu hitam itu memiliki anak, dia akan terus berkeliling mencari ibu hamil dan menunggu sampai mereka melahirkan bayinya.</p><p>"Tapi orang yang menuntut ilmu itu punya kelemahan. Dia akan mati jika terkena sinar matahari sebelum dia kembali ke tubuhnya. Saat mereka pergi mencari mangsa, tubuhnya pasti ditinggalkan di tempat tertentu," Hasan memaparkan di hadapan Lastri dan kedua orangtuanya.</p><p>Saat ini, kata Hasan, yang perlu dicari adalah siapa sebenarnya perempuan penuntut ilmu hitam itu. Jika sudah diketahui, maka akan lebih mudah untuk menghentikannya.</p><p>Untuk dapat menemukan orang itu, menurutnya, yang harus dilakukan adalah memperhatikan seluruh perempuan di desa itu maupun di desa sekitar. Jika ada perempuan yang matanya selalu terpicing saat siang hari, dan tidak pernah terlihat muncul menjelang magrib, maka kemungkinan besar dialah orangnya.</p><p>Meski terdengar mudah, tapi cara itu gampang-gampang sulit untuk dilakukan, kecuali jika sudah ada seseorang yang dicurigai.</p><p>Tiba-tiba Lastri menyahut. Dia menjelaskan bahwa makhluk perempuan itu kerap menyebut bahwa dia telah memakan anak Lastri dan mengambil suaminya. Tapi Lastri tidak paham maksud perkataannya.</p><p>Sebenarnya sejak awal, Lastri ingin sekali memberitahukan hal itu pada ibunya, tapi dia khawatir ibunya menganggap itu sebagai bagian dari kegilaannya. Apalagi selama ini mereka menganggap Lastri gila.</p><p>"Orang sudah terlanjur menganggap aku gila. Itu membuatku enggan bercerita atau bertanya," ucapnya lirih.</p><p>Mendengar ucapan Lastri, Bu Narto terisak. Dia merasa bersalah karena tidak pernah menceritakan yang sebenarnya terjadi, bahwa Dadang, suaminya telah menceraikan Lastri dan menikah dengan perempuan dari desa sebelah.</p><p>Malam semakin larut. Suara burung dan binatang malam lain semakin jelas terdengar. Setelah membacakan beberapa doa di setiap sudut ruangan, agar makhluk itu tidak kembali datang, Hasan pun berpamitan.</p><p>Tapi, sebelum pulang, dia meminta pada Pak Narto dan istrinya agar membuka balok yang digunakan untuk memasung Lastri, karena Lastri bukan gila seperti yang mereka duga selama ini.</p><p>Saran tersebut dilaksanakan oleh Pak Narto, meski dia masih sedikit waswas Lastri akan kembali mengamuk. Tapi kekhawatiran itu tidak terjadi. Hingga pagi tiba, Lastri sama sekali tidak menangis atau berteriak seperti biasanya.</p><p>Hasan kembali datang ke rumah Lastri. Dia berniat menanyakan tentang istri baru dari mantan suami Lastri. Sejujurnya dia curiga saat mendengar cerita Lastri tadi malam.</p><p>Pak Narto dan istrinya mengaku mereka sama sekali tidak mengenal istri Dadang. Padahal jarak desa mereka tidak terlalu jauh. Mereka juga tidak pernah mencari tahu siapa perempuan itu.</p><p>Entah kenapa, Hasan semakin penasaran dan curiga bahwa istri Dadang adalah makhluk perempuan itu. Padahal dia sama sekali tidak pernah mengenal atau melihat istri Dadang.</p><p>Hasan kemudian menyampaikan rencananya, untuk pura-pura bertamu ke rumah Dadang, dan mencari tahu siapa istri Dadang saat ini.</p><p>Kurang dari setengah jam, Hasan sudah ada di rumah Dadang. Tidak sulit mencari rumah itu, karena sebagai satu-satunya tukang reparasi dinamo, Dadang cukup dikenal di kampung itu.</p><p>Hasan berpura-pura menanyakan ongkos reparasi dinamo pompa air. Dengan gaya sok akrab, Hasan menemani Dadang yang sedang bekerja, sambil sesekali membantu jika ada yang dibutuhkan.</p><p>Hasan hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk mengakrabkan diri dengan Dadang. Hingga akhirnya Dadang memanggil istrinya, dan meminta tolong agar dibuatkan segelas kopi untuk teman barunya.</p><p>Saat istri Dadang keluar membawa segelas kopi, dia tampak kaget melihat suaminya bersama Hasan. Hasan pun mencium aroma anyir seperti yang dirasakannya di rumah Lastri tadi malam. Tapi Hasan berpura-pura tidak tahu.</p><p>Istri Dadang hanya keluar untuk menyajikan kopi, kemudian kembali masuk, tanpa menegur Hasan sama sekali.</p><p>Hasan sangat yakin bahwa perempuan itu mengamalkan ilmu hitam, dan menjadi makhluk jadi-jadian saat senja tiba hingga menjelang pagi. Dia juga sangat yakin bahwa Dadang sama sekali tidak mengetahui apa yang dilakukan istrinya.</p><p>Hasan mencoba mencari tahu, apa yang dilakukan oleh Dadang saat senja tiba hingga pagi harinya. Ternyata, Dadang dan istrinya tidak tidur sekamar.</p><p>Mereka hanya tidur sekamar sekali dalam sepekan, yakni setiap Selasa malam. Selebihnya, istrinya selalu tidur di kamar besar, yang tidak boleh dimasuki oleh Dadang. Alasannya karena di kamar itu istrinya menemani neneknya yang sedang sakit.</p><p>"Saya juga baru satu kali ketemu nenek, waktu pertama datang di sini. Kata istri saya, neneknya tidak suka kalau ada orang lain yang masuk ke kamar itu," papar Dadang.</p><p><strong>Bersambung...</strong></p>]]></content:encoded></item></channel></rss>